Berapa Rupiah APBN untuk Subsidi Energi pada 2012-2022?

Rabu, 25 Mei 2022 05:56 WIB

2022 ditambah sebanyak Rp 74,9 triliun. Usul itu ia ajukan pada rapat dengan Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat pada Kamis, 19 Mei 2022, dan telah disetujui dewan.

Jumlah itu terdiri dari Rp 71,8 triliun untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan elpiji, serta Rp 3,1 triliun untuk subsidi listrik. Menurut Sri Mulyani, tambahan anggaran subsidi itu berguna untuk mencegah kenaikan harga BBM, elpiji, dan tarif listrik. Hal ini karena komoditas energi di pasar dunia mengalami kenaikan imbas dari invasi Rusia ke Ukraina.

Di tahun ini, pemerintah telah mengalokasikan Rp 134 triliun dari APBN untuk subsidi energi. Sebagian besar ditujukan untuk subsidi BBM dan elpiji, yakni Rp 77,5 triliun, dan sisanya untuk subsidi listrik. Tambahan anggaran itu membuat biaya negara untuk subsidi energi tahun ini menjadi Rp 208,9 triliun.

Apabila nanti angka itu terealisasi sepenuhnya, maka jumlah itu jadi yang tertinggi sepanjang periode pemerintahan Presiden Joko Widodo, sejak 2015 hingga sekarang. Realisasi subsidi energi tertinggi di masa kepresidenan Jokowi terjadi pada 2018, yakni hingga Rp 153,5 triliun.

Meski demikian, angka itu masih kalah dibanding realisasi subsidi energi di periode kedua masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada periode itu, dana APBN yang digunakan untuk subsidi energi mencapai Rp 300 triliun lebih. 

Realisasi tertinggi terjadi pada 2014, yakni sebesar Rp 341,8 triliun, terdiri dari Rp 240 triliun untuk subsidi energi dan Rp 101,8 triliun untuk subsidi listrik.

Sri Mulyani menyebut bahwa hingga April lalu, realisasi belanja subsidi energi tahun 2022 telah mencapai Rp 34,8 triliun. Jumlah itu naik dari capaian di periode yang sama sebesar Rp 23,2 triliun.