Survei Bloomberg: Kenaikan Suku Bunga Menaikkan Potensi Resesi

Kamis, 21 Juli 2022 18:19 WIB

Berdasarkan jajak pendapat terbaru yang diadakan Bloomberg terhadap sejumlah ekonom dunia, prediksi tingkat risiko resesi di sejumlah negara Asia mengalami peningkatan. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan bank sentral di negara-negara tersebut yang menaikkan suku bunga acuan untuk mengurangi dampak inflasi.

Resesi merupakan kejatuhan aktivitas ekonomi yang berlangsung berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Periode ini ditandai dengan penurunan produk domestik bruto (PDB), peningkatan angka pengangguran, penurunan angka produksi industri, dan penurunan penjualan ritel. 

Dikutip dari laman Forbes, salah satu penyebab resesi adalah inflasi yang terlalu tinggi. Untuk mengatasi kenaikan tingkat inflasi, bank sentral turut menaikkan suku bunga acuan. Hal ini berpotensi mengurangi minat masyarakat meminjam uang, alhasil aktivitas ekonomi pun menurun.

Kenaikan suku bunga ini telah terjadi di Selandia Baru, Taiwan, Australia, dan Filipina. Alhasil, para ekonom pun menaikkan angka prediksi tingkat risiko resesi di negara-negara tersebut masing-masing menjadi 33 persen, 20 persen, 20 persen dan 8 persen. 

Namun kemungkinan resesi di Cina, Jepang, dan Korea Selatan masih belum berubah dibanding survei serupa yang bulan sebelumnya juga diadakan Bloomberg. Sedangkan para ekonom memprediksi tingkat potensi Indonesia mengalami resesi sebesar 3 persen.

Secara umum, para ekonom melihat negara-negara Asia lebih kuat dalam menghadapi resesi dibanding Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Bloomberg menyebut negara-negara Eropa terdampak parah oleh kenaikan harga energi dunia, sehingga tingkat inflasi melambung tinggi. Para ekonom memperkirakan rata-rata potensi resesi negara-negara Asia sekitar 20-25 persen, sedangkan AS 40 persen, dan Eropa berada di 50-55 persen.