Harga Mi Instan Terancam Naik, Berapa Konsumsi dan Impor Gandum Indonesia Selama Ini?

Kamis, 18 Agustus 2022 16:38 WIB

Pada Webinar Direktorat Jenderal Tanaman Pangan bertanggal 8 Agustus 2022, Menteri Pertanian Syahrul Limpo mengingatkan bahwa harga mi instan di pasaran bisa naik tiga kali lipat. Ini disebabkan pasokan gandum impor dari Rusia dan Ukraina terganggu lantaran konflik kedua negara.

“Di sana (Rusia dan Ukraina), gandum tertimbun 180 juta ton. Jadi hati-hati yang banyak makan mi dari gandum, besok harganya (naik) tiga kali lipat itu,” ujarnya 

Berdasarkan data Kementerian Pertanian Amerika Serikat, seperti tampak pada diagram di atas, konsumsi gandum Indonesia pada periode 2021/2022 ditaksir mencapai 10,4 juta ton, naik dari 10,1 juta ton pada periode 2020/2021.

Sebelumnya konsumsi gandum Indonesia mencapai titik tertinggi dalam 10 tahun terakhir pada 2017/2018 dan 2018/2019, yakni 10,6 juta ton. Kemudian mengalami penurunan pada pada periode 2019/2020 dan 2020/2021. Sejak periode 2016/2017, konsumsi gandum Indonesia melambung hingga 10 juta ton. Dengan demikian, konsumsi gandum per kapita atau setiap penduduk Indonesia sejak itu minimal 37 kilogram per tahun.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor gandum Indonesia mengalami kenaikan sejak 2016 hingga sekarang, yakni pada rentang 10-11 juta ton setiap tahun. Momen itu bersamaan dengan jumlah konsumsi gandum yang melambung. Padahal pada periode 2012-2015, jumlah impor gandum Indonesia setiap tahun berada pada rentang 6,25-7,43 juta ton setiap tahun.

 

Jika ditinjau dari negara asal, Australia dan Kanada merupakan dua negara pengekspor gandum terbesar ke Indonesia selama 2012 hingga 2020, yakni masing-masing 29,24 juta ton dan 15,48 juta ton. Gabungan impor gandum dari dua negara itu selama 2012 hingga 2020 memberi andil hingga 54,28 persen dari gandum yang diimpor Indonesia selama sembilan tahun tersebut.

Sedangkan Ukraina dan Rusia merupakan negara pengekspor gandum terbesar ketiga dan keenam ke Indonesia dalam periode yang sama, dengan berat kumulatif masing-masing 14,16 juta ton dan 3,82 juta ton.Gabungan berat impor gandum dari dua negara itu selama 2012 hingga 2020 menyumbang 22,22 persen dari impor gandum yang masuk Indonesia selama periode tersebut.

Menyusul bantahan dari pengusaha mi instan dan ekonom, Kementerian Pertanian mengklarifikasi bahwa pernyataan Menteri Pertanian hanya sebatas pengingat kepada produsen mi instan bahwa bahan baku mi instan berasal dari impor, sehingga tergantung gejolak harga negara-negara produsen. 

“Pemerintah termasuk Kementan mengharapkan semua pelaku industri pangan terus berkomitmen untuk menjaga harga produk mereka,” ujar Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri melalui siaran pers, Kamis, 11 Agustus 2022.