Harga Gandum Mulai Menurun

Selasa, 23 Agustus 2022 21:34 WIB

Pada awal Agustus lalu, Menteri Pertanian Syahrul Limpo mengingatkan bahwa harga mi instan di pasaran bisa naik tiga kali lipat. Ini disebabkan pasokan gandum impor dari Rusia dan Ukraina terganggu lantaran konflik kedua negara.

Namun, Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk. sekaligus Ketua Umum Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo), Franciscus Welirang membantah bahwa harga mi instan akan naik sedrastis prediksi Mentan. Ini karena harga gandum internasional belakangan sudah terpantau menurun.

Menurutnya, puncak kenaikan harga gandum sudah terjadi pada Mei lalu. “Harga gandum tertinggi sudah lewat dan sepertinya tidak akan naik lagi,” katanya ketika dihubungi, Rabu, 10 Agustus 2022.

Keterangan Franciscus ini sejalan dengan data Bank Dunia terkait harga komoditas gandum. Lembaga itu memantau pergerakan harga dua jenis gandum, yakni US Soft Red Winter (US SRW), dan US Hard Red Winter (US HRW).  

Grafik interaktif di atas menunjukkan bahwa sebelum konflik Ukraina-Rusia pecah, harga gandum dua tipe itu sempat mengalami puncak kenaikan pada November tahun lalu, lalu menurun. Kemudian harga naik kembali saat Rusia menginvasi Ukraina pada Februari lalu, kemudian mencapai puncak tertinggi pada Mei lalu.

Berdasarkan penjelasan Asosiasi Gandum Amerika Serikat, tipe US SRW cocok digunakan sebagai bahan baku makanan bercita rasa manis seperti kukis, biskuit dan kue, serta campuran untuk roti baguette dan produk roti lainnya. Sedangkan tipe HRW merupakan bahan baku utama roti-rotian dan juga cocok untuk bahan baku sejumlah tipe mi Asia.