Kisah Gerilya Kota
Edisi: 43/32 / Tanggal : 2003-12-28 / Halaman : 125 / Rubrik : LAPUT / Penulis : Prabandari, Purwani D., ,
LA fiesta esta terminada, pesta itu lekas berlalu. Sebuah penangkapan, sebuah pesta kemenangan, dan sekonyong-konyong kita pun melihat satu persoalan baru di pucuk tumpukan masalah kompleks di Negeri Seribu Satu Malam itu: pengadilan Saddam Hussein (lihat, Kecemasan Sang Putri).
Kita tahu, persoalan Irak setelah perang singkat yang mengakhiri kepemimpinan Saddam Hussein itu sama sekali tidak sederhana. Di Kota Bagdad, ada orang-orang seperti Yahya Hassan, 35 tahun, serta ratusan orang muda lain yang merayakan penangkapan Saddam bak merayakan pesta perkawinan meriah. Malam itu, Sabtu malam, beberapa jam setelah penangkapan bersejarah itu dimaklumkan, Yahya Hassan bergabung dengan massa yang menari, menyanyi bersama, melemparkan kembang gula ke udara.
Tapi inilah Irak. Esok harinya, tatkala tayangan di televisi masih memutar adegan Yahya yang bersuka-cita, tiba-tiba muncul satu lukisan berbeda: bertolak belakang, tapi melengkapi pesta-pora Yahya. Di Husseiniya, kota yang terletak 30 kilometer di sebelah utara Bagdad, sebuah Toyota Land Cruiser penuh muatan bahan peledak meluncur menerobos pagar kantor polisi Zuhour. Polisi lantas menyambut dengan berondongan senapan-tembakan jitu yang akhirnya memicu ledakan besar yang menewaskan delapan orang, termasuk enam polisi, dan melukai 20 lainnya.
Inilah panorama Irak kini. Saddam, pemimpin berpistol-bersenapan yang jadi simbol perlawanan, telah ditangkap sonder melawan di lubang persembunyiannya yang sempit. Tapi perlawanan terhadap kehadiran pasukan dan kepentingan Amerika Serikat berikut sekutunya tak kunjung berakhir. Kekerasan dan pertumpahan darah adalah gambaran keseharian di berbagai kota di Irak, terutama di Bagdad dan sabuk Segitiga Sunni, Irak dari utara sampai barat di luar wilayah suku Kurdi.
Di Tikrit, kota kampung halaman Saddam, sekitar 160 km dari Bagdad, perlawanan langsung meledak sehari setelah pengumuman penangkapan tersebut. Hari Minggu, dua pekan lalu, sekitar 700 warga tumpah ke jalan dan berteriak: "Saddam ada di hati kami, Saddam ada di darah kami." Tak pelak, dalam waktu singkat, baku tembak dengan pasukan Amerika pun pecah. Terakhir, Selasa pekan silam, sergapan mendadak dan ledakan bom mengakibatkan tiga tentara Amerika terluka. Pasukan Amerika menangkap 11 tersangka gerilyawan yang berencana melakukan penyergapan. Baku tembak juga terjadi di Fallujah, 50 kilometer dari Bagdad, kota berpenduduk mayoritas Sunni yang rajin mengangkat senjata.
Di Tikrit dan kota-kota yang menjadi kantong kaum Sunni lainnya, Saddam mungkin masih menjadi…
Keywords: -
Artikel Majalah Text Lainnya
Willem pergi, mengapa Sumitro?; Astra: Aset nasional
1992-08-08Prof. sumitro djojohadikusumo menjadi chairman pt astra international inc untuk mempertahankan astra sebagai aset nasional.…
YANG KINI DIPERTARUHKAN
1990-09-29Kejaksaan agung masih terus memeriksa dicky iskandar di nata secara maraton. kerugian bank duta sebesar…
BAGAIMANA MEMPERCAYAI BANK
1990-09-29Winarto seomarto sibuk membenahi manajemen bank duta. bulog kedatangan beras vietnam. kepercayaan dan pengawasan adalah…
