30 Tahun Yang Lalu, Sebuah Dekrit
Edisi: 20/19 / Tanggal : 1989-07-15 / Halaman : 32 / Rubrik : NAS / Penulis :
SELAMA 30 tahun, Dekrit Presiden 5 Juli 1959 seakan hanya menjadi hafalan anak sekolah. Tiba-tiba dekrit kembali ke UUD '45 itu pekan lalu ramai dipersoalkan. Dan inilah untuk pertama kalinya, secara terbuka, orang berani bicara mengenai kemungkinan perubahan UUD '45 yang selama ini dianggap sakral, pantang diubah.
Memperingati dekrit itu, ada tiga seminar: di FH UI (Depok), Yayasan Idayu (Jakarta), dan di FH Unpad, Jatinangor, Sumedang. Selain para pakar ilmu hukum ketatanegaraan, bicara pula Ketua Tim P-7 Roeslan Abdulgani, di UI dan Idayu, sementara Mensesneg Moerdiono di Unpad.
Di tengah angin keterbukaan politik yang kini melanda, rupanya orang bisa melihat UUD '45 lebih teliti dan obyektif. Kesimpulan seminar di Unpad, misalnya, menegaskan perlunya perubahan UUD sesuai dengan tuntutan aspirasi masyarakat. Bahkan ditegaskan "tidak ada alasan bagi generasi pendahulu untuk memaksakan visi yang sama kepada generasi penerus".
Lahirnya dekrit itu dimulai ketika Konstituante hasil pemilu pertama…
Keywords: -
Artikel Majalah Text Lainnya
Setelah Islam, Kini Kebangsaan
1994-05-14Icmi dikecam, maka muncul ikatan cendekiawan kebangsaan indonesia alias icki. pemrakarsanya adalah alamsjah ratuperwiranegara, yang…
Kalau Bukan Amosi, Siapa?
1994-05-14Setelah amosi ditangkap, sejumlah tokoh lsm di medan lari ke jakarta. kepada tempo, mereka mengaku…
Orang Sipil di Dapur ABRI
1994-05-14Sejumlah pengamat seperti sjahrir dan amir santoso duduk dalam dewan sospol abri. apa tugas mereka?
