Uji-coba Sang Raja Muda
Edisi: 19/11 / Tanggal : 1981-07-11 / Halaman : 38 / Rubrik : SEL / Penulis :
KETIKA Juan Carlos dinobatkan menjadi raja Spanyol, 22 November 1975, hampir semua kalangan di negeri itu menyambutnya dengan sikap curiga.
Bagi kaum demokrat -- yang di masa kekuasaan Jenderal Franco sebagian besar mengunjungsi ke luar negeri atau bergerak di bawah tanah -- raja baru ini tidak akan berbeda dengan diktator pendahulunya. Sedang di mata para bangsawan penerus Dinasti Don Juan de Borbon Battenberg, Count of Barcelona, ia dipandang sebagai perebut tahta.
Sementara kalangan lain menilainya tak lebih dari seorang playboy, atau cendekiawan kelas tanggung. Sebagian besar prasangka ini ternyata keliru.
Secara pribadi, Juan Carlos memang pernah mengungkapkan isi hatinya. Ia ingin menegakkan monarki konstitusional gaya Inggris. Bertahta seperti Ratu Elizabeth: jauh di atas pertikaian politik, baru mengambil keputusan bila keadaan sangat memaksa, dan menjadi lambang persatuan bangsa. Tetapi "sejarah, betapa pun, telah menempatkan tokoh ini dalam peranan yang lebih tegas dan tegar," tulis James M. Markham, Kepala biro Tirnes di Madrid. Dan peristiwa belakangan ini makin memperjelas hal itu.
Pada malam 23 Februari, sepasukan Garda Sipil melancarkan pemberontakan. Mereka menyerbu Cortes (parlemen) yang tengah bersidang untuk memilih perdana menteri. Pemimpin kawanan itu, Letkol Antonio Tejero Molina, 49 tahun, maju ke mimbar dengan kumis melintang dan pistol teracung, seraya mengancam. Ia menyandera anggota majelis. Ada isyarat, kaum militer ingin mencoba ketangguhan Juan Carlos.
Sang raja sementara itu berada di Istana Zarzuela, mengikuti jalannya -- sidang hanya lewat siaran pandangan mamata radio. Ia tiba-tiba terkesima mendengar suara penyiar: "Seorang lelaki berseragam letkol Garda Sipil mengacungkan pistol kepada jurubicara majelis!" Disusul suara letusan senjata api.
Di luar dugaan para pengamat, Juan Carlos tak sampai gelagapan. Ia segera mengorganisasikan sebuah pemerintah darurat -- sementara yang asli ditodong. Meski soalnya belum jelas betul, Juan tahu keadaan sangat gawat. Dari 11 komandan militer regional yang berpengaruh, hanya tiga yang menghubungi sang raja dan memaklumkan janji setia.
Sepanjang malam itu, melalui sistem komunikasi pribadi, Juan Carlos menghimbau para perwira yang ragu-ragu. Ia membantah pernyataan para pemberontak, bahwa golpede estado, kudeta menumbangkan pemerintah itu, direstuinya.
Jawaban pertama datang dari Jenderal Alfonso Armada Comyn, Deputi KSAD Kerajaan. Tokoh inilah yang bakal jadi presiden bila kudeta berhasil. Di kantornya, kata jenderal yang pernah menjadi guru militer dan kepala rumah tangga istana ini, "ada 10 orang jenderal yang sepaham dengan saya, di samping komandankomandan wilayah militer kedua, ketiga, kelima dan ketujuh." Dengan suara murka sang…
Keywords: -
Artikel Majalah Text Lainnya
Zhirinovsky, Pemimpin dari Jalanan
1994-05-14Vladimir zhirinovsky, ketua partai liberal demokrat, mencita-citakan terwujudnya kekaisaran rusia yang dulu pernah mengusai negara-negara…
Janji-Janji dari Nigeria
1994-03-12Di indonesia mulai beredar surat-surat yang menawarkan kerja sama transfer uang miliaran rupiah dari nigeria.…
Negeri Asal Surat Tipuan
1994-03-12Republik federasi nigeria, negeri yang tak habis-habisnya diguncang kudeta militer sejak merdeka 1 oktober 1960.…
