Zikir Di Belakang Tirai Besi

Edisi: 20/11 / Tanggal : 1981-07-18 / Halaman : 35 / Rubrik : SEL / Penulis :


ASSALAMU 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh! . . . Semoga sirnalah buruk sangka 'kaum reaksioner Indonesia', yang menyebut Uni Soviet negara tidak bertuhan... "

Ketika Presiden Voroshilov berkunjung ke negeri kita, 1957, ia membawa seorang tokoh istimewa. Ialah Sharaf Rashidov, presiden salah satu "republik Islam" Soviet. Di mana-mana, tokoh ini diperkenalkan Bung Karno dengan cara yang mengesankan. Orannya memang menarik: tinggi, tampan, selalu tersenyum simpul. Dari podium, biasanya ia akan melambaikan tangan kepada massa di bawah -- seraya menyerukan salam seperti di atas.

Islam memang bukan barang baru di Rusia. Sejak 1924, enam buah "republik Islam" dibentuk dalam pangkuan Uni Republik-Republik Sosialis Soviet. Yakni: Uzbekistan, Kazakhstan, Kirgizistan, Turkmenia, Tajikistan, dan Azerbaijan. Di republik-republik tersebut, dan di delapan "republik otonom" lain, kaum muslimin merupakan mayoritas penduduk.

Sampai sekarang pun, melalui pelbagai siaran radio dan publikasi resmi, Soviet tetap memberi gambaran ramah dn bersahabat dalam hal kaum muslimin. September tahun lalu misalnya, sebuah konperensi Islam internasional berlangsung empat hari di Tasykent, ibukota Republik Kazakhstan.

Konperensi itu dimaksud mengelu-elukan tibanya abad ke-15 Hijriah. Sekaligus membuktikan betapa eloknya itikad Rusia terhadap masyarakat Islam dan Dunia Ketiga.

Tak lama kemudian, 1 Februari 180, seorang tokoh bernama Dr. Viktor Bogoslavsky tampil di 'Radio Perdamaian dan Kemajuan' yang disetir Soviet. Disiarkan dalam bahasa Arab dan Inggris, terutama untuk para pendengar di Benua Afrika, siaran itu diantarkan dalam sebuah paket yang berjudul 'Kebangkrutan Historis Musuh-Musuh Leninisme. Apa ceritanya?.

"Sesungguhnyalah kaum imperialis senantiasa menyebarkan dusta," ujar Dr. Bogoslavskiy. "Setelah kehilangan posisi neokolonialisnya di dunia Islam, mereka berusaha melepaskan negeri-negeri itu dari Uni Soviet maupun negeri sosialis lain. Dengan demikian negeri-negeri tersebut berjuang sendirian menghadapi perang dan imperialisme."

Salah satu asas kebijaksanaan Soviet menghadapi negeri-negeri Islam, menurut Bogoslavskiy, ialah "penghargaan Lenin dan Partai terhadap Islam sebagai agama, dan bantuan yang senantiasa diberikan kepada umat Islam dalam mempertahankan nilai-nilai rohani dan budayanya."

POLITIK luar negeri Partai Komunis Uni Soviet (PKUS), konon memang diletakkan pada 'prinsip-prinsip Lenin' tadi. Contohnya? "Soviet mendukung perjuangan antiimperialis kaum muslimin di Asia dan Afrika. Berdiri di sisi negeri-negeri Arab sejak Israel melancarkan agresi. Menyambut revolusi Iran, dan mehyambut revolusi Afghanistan, tempat para patriot Islam ambil bagian aktif" ....

Sebelum konperensi Tasykent tersebut, Radio Moskow bahkan sudah muncul dengan programa khusus. Dua ulama terkemuka Soviet ambil bagian: Mufti Babakhanov dari Kazakhstan, dan deputinya Yusuf Khan Shakirov.

Mereka tak lalai mengingatkan: "Sementara kaum muslimin menyambut abad ke-15 Hijriah penuh harapan, dunia sedang digeluti pelbagai kericuhan internasional." Umat Islam dihimbau…

Keywords: -
Rp. 15.000

Artikel Majalah Text Lainnya

Z
Zhirinovsky, Pemimpin dari Jalanan
1994-05-14

Vladimir zhirinovsky, ketua partai liberal demokrat, mencita-citakan terwujudnya kekaisaran rusia yang dulu pernah mengusai negara-negara…

J
Janji-Janji dari Nigeria
1994-03-12

Di indonesia mulai beredar surat-surat yang menawarkan kerja sama transfer uang miliaran rupiah dari nigeria.…

N
Negeri Asal Surat Tipuan
1994-03-12

Republik federasi nigeria, negeri yang tak habis-habisnya diguncang kudeta militer sejak merdeka 1 oktober 1960.…