Jenderal Banyak Bekas

Edisi: 36/02 / Tanggal : 1972-11-18 / Halaman : 44 / Rubrik : PT / Penulis :


TANGGAL 30 September malam ia masih terlihat muncul di layar TV
RI. Mengucapkan pidato sehubungan dengan terjadinya G30S/PKI
yang nyaris menewaskan dirinya sendiri 7 tahun berselang,
jenderal Abdul Haris Nasution malam itu aritaranya mengingatkan
apa yang-barangkali dilupakan orang: yaitu bahwa - mandat kepada
jenderal Soeharto berupa Surat Perintah 11 Maret atau yang dalam
singkatan agak berbau klenik disebut Super-Semar, sesuai dengan
Tap MPRS nomor IX, sudah tidak berlaku lagi sejak dilantiknya
MPR hasil pemilu. Dan pelantikan MPR hasil pemilu itu
dilangsungkan tanggal 1 Oktober keesokan harinya. Namun Nasution
ondiri tidak hadir dalam peristiwa resmi yang amat penting itu.
Pertanyaan-pertanyaan beredar dalam masyarakat: kemana Nasution?
Apakah ia tidak diundang? Apakah ia selaku ketua badan
legislatif tertinggi yang berdasarkan Tap MPRS nomor X masih
berfungsi sampai terbentuknya MPR hasil pemilu - tidak akan
melakukan serah-terima jabatan dengan ketua MPR yang telah
--berdasarkan kesepakatan antara fihak Parpol/Golkar dengan
Presiden otomatis dijabat oleh ketua DPR?

; Pelarian

; Nasution ternyata memang tidak berada di Jakarta hari itu.
Munculnya ia di layar TVRI tanggal 30 September malam, bukanlah
dalam siaran langsung, melainkan hasil rekaman beberapa hari
sebelumnya. Nasution bukan tidak menerima undangan, meskipun
bukan berupa undangan khusus melainkan hanya kartu undangan
biasa dan bukan pula ditulis untuk "Bapak Ketua MPRS" melainkan
hanya untuk "Bapak Jenderal Abdul Haris Nasution". Undangan itu
diterima ajudannya tanggal 28 September siang. Dan konon fihak
panitia merencanakan, jika Nasution hadir tempat duduknya tidak
lagi disediakan di tempat tersendiri melainkan di tempatkan di
deretan para Menteri. Tapi menurut Nasution sendiri, bukan
alasan protokuler ini yang, menyebabkannya tidak bisa memenuhi
undangan tersebut. "Sebagaimana dulu dalam pelantikan DPR",
katanya dalam jawaban tertulis kepada TEMPO, "juga dalam hal
MPR, pimpinan lembaga lama tidak berperan". Karena itu "saya
tidak membatalkan acara-acara saya di luar kota, yang telah
mengikat dari waktu jauh sebelumnya, yakni tanggal 29 September
untuk Siliwangi dari resimen Mahasiswa di Bandung dan hari-hari
berikutnya berceramah di depan senat-senat IAIN di Pacet, di
depan Mahasiswa-Mahasiswa Katholik di Sindanglaya, serta Yayasan
Pendidikan di Pacet. Kegiatan begitu sudah jadi rutin saya,
karena 2 a 3 tahun terakhir ini saya bergiat di bidang pembinaan
pendidikan".

; Sejalan dengan kegiatan isterinya, di bidang sosial, bidang
pendidikan memang agaknya sudah menjadi kegiatan baru jenderal
Nasution. Ia menjadi Ketua Dewan Kurator, Pelindung ataupun
Pinisepuh dari berbagai Lembaga dan Yayasan Perguruan Tinggi di
Jawa dan Sumatera. Tapi banyak orang menilai bahwa kegiatan baru
Nasution itu lebih merupakan "pelarian" oleh kian tersisihnya ia
dari konstelasi kekuasaan masa post Soekarno di tanah air. Anak
dari keluarga H.A. Hlim Nasution yang dilahirkan tanggal 3
Desember 1918 di Kotanopan Tapanuli, kini jenderal Nasution
nampaknya sedang memasuki masa akhir karirnya dalam jabatan
resmi sepanjang 27 tahun sejarah RI - dan dalam cara yang
barangkali tak begitu dikehendakinya.

; Jejak Yang Panjang

; Diasuh dalam lingkungan keluarga yang taat pada agama Islam
serta pendidikan Belanda yang didapatnya dalam masa sebelum
perang, merupakan tumpukan latar-belakang yang telah membentuk
sikap hidup serta posisi Nasution kemudian sebagai perwira dalam
ketentaraan Republik Indonesia. la mendapat pendidikan formil
HIS, kemudian HIK dan AMS B sekaligus, menjadi guru untuk
beberapa lama di daerah Bengkulu dan Palembang untuk kemudian
memasuki Korps Pendidikan Perwira Cadangan yang dilanjutkannya
memasuki Akademi Militer di Bandung ketika perang dunia ke-II
pecan di Eropa. Kecuali masa 3" tahun setelah terjadinya
peristiwa 17 Oktober 1952, Nasution adalah salah satu - kalau
tidak boleh dikatakan 'satu-satunya, tokoh minter yang paling
lama berada di pucuk pimpinan TNI di sepanjang masa kekuasaan
Soekarno. Karena itu sejarah lahir, tumbuh dan perkembangan
kehidupan TNI sukar dipisahkan dari karir dan sepak terjang
jenderal Nasution sendiri di dalamnya. Dalam kata-kata jenderal
Yani almarhum ketika menerima penyerahan jabatan KASAD dari
jenderal Nasution di bulan Juni 1962: "Jenderal Nasution bukan
saja telah merintis jalan yang terang bagi kelanjutan TNI,
tetapi ia juga telah meletakkan dan menyempurnakan fondasi yang
kokoh bagi TNI". Beberapa kali pernah teijadi keretakan dalam
tubuh Angkatan Darat matipun Angkatan Bersenjata umumnya, dan
Nasution tidak hanya terlibat dalam keretakan itu akan tetapi
juga dalam pemulihan kembali keretakan itu. Ia yang meletakkan
dasar-dasar doktrin perang wilayah, konsep dwi-fungsi ABRI serta
pembentukan Hansip sebagai cara untuk menggagalkan konsep PKI
untuk membentuk Angkatan ke-V.

; Tapi jejak Nasution yang bisa diselusuri masih lebih panjang
dari itu. Di masa tanpa jabatan setelah terjadinya peristiwa 17
Oktober 1952, ia mendirikan partai IPKI. Nasution yang
memerintahkan pengambil-alihan perusahaan-perusahaan Belanda di
Indonesia ketika menghangatnya konflik RI dengan…

Keywords: -
Rp. 15.000

Artikel Majalah Text Lainnya

M
MEMPERBAIKI KETURUNAN
1994-05-14

Penyanyi ruth sahanaya ,27, menikah dengan jeffrey waworuntu, 29, di bandung. resepsi di hotel papandayan…

N
NOVELNYA LARIS UNTUK SINETRON
1994-05-14

Y.b. mangunwijaya genap berusia 65 tahun. perayaan ulang tahunnya berlangsung di hotel santika, yogyakarta, dengan…

P
PENYAIR JUGA BAYAR LISTRIK
1994-05-14

Penampilan rendra, 59, di panggung gedung olahraga kridosono, yogyakarta, memukau penonton. ia membawakan beberapa sajaknya…