Dari Buku Catatan Perjalanan ...

Edisi: 35/07 / Tanggal : 1977-10-29 / Halaman : 11 / Rubrik : LN / Penulis :


IKLIM yang kering terasa bersih pada suhu 27° di Madinah. Kota kecil suci, kota kecil yang sejuk ..... Ia mungkin hanya bisa digambarkan secara ringkas dalam bahasa Inggeris: charming. Perempuan-perempuan bercadar hitam berjalan ke pasar. Gang-gang kecil seperti mengundang kita ke antara rumah-rumah kampung yang berangkai, persegi, dan bersahaja. Penduduk hanya sekitar 100.000, dan paru-paru bisa ikut merasa longgar. Tak heran jika orang-orang Islam pertama hijrah ke mari, 14 abad yang lampau. 

Tapi mungkin itu semua terlampau romantis. Kira-kira dua kilometer dari lapangan terbang yang kecil mungil, puluhan bangkai sepeda motor dan mobil berserakan. Logam yang terbuang di pekuburan teknologi itu agaknya petunjuk, betapa "kemajuan" telah berlangsung di jazirah Arab: ada kemakmuran dan sekaligus kemubaziran. Ada alat baru yang diiklankan, dan sekaligus onggokan karat yang tak bisa dihabiskan. 

Cara konsumsi Amerika rupanya sudah sampai ke mari. Ada sesuatu yang terasa tak pada tempatnya, mungkin. Seperti papan besar adpertensi Titus, bercat merah, beberapa meter di dalam batas masuk Tanah Suci menjelang Mekah. Seperti deretan iklan arloji Louis Russel, sesudah itu .... 

Tapi betulkah daerah yang menyimpan Ka'bah hampir selama 5000 tahun ini tak boleh berubah? Di jalan-jalan licin luas, menuju Masjidil Haram, mengaum truk-truk besar Mercedez Benz. Bahkan di tepi kanan ada sebuah pabrik coklat dan manisan. Jika anda kebetulan beruntung ketemu onta di sini mungkin saja itu onta impor. Dari Australia, siapa tahu. Dua ratus tahun yang silam, kira-kira, Australia menampung onta yang datang bersama imigran Afghanistan. Hewan itu kini tinggal dengan merdeka dan sejahtera di padang pasir belantara di Pasifik itu. Sekitar dua tahun yang lalu, seorang penangkap onta liar Australia mempersembahkan hasil tangkapannya kepada Raja Arab. 

Sejarah memang telah berjalan sekian jauh dan membalikkan banyak soal. 

Raja Feisal almarhum, tokoh yang alim itu, memperkenankan televisi tapi melarang bioskop di negerinya. Tapi di ibukota kerajaan, Ryadh,secara setengah tersembunyi ada tempat-tempat buat pertunjukan film. Kata seorang pekerja Indonesia yang pernah nonton di situ: "Karcisnya lebih mahal dari Jakarta Theater, lapi tempatnya kayak kandang ayam." Filmnya? Ia nonton Guess Who Is Coming to Dinner, berbahasa Inggeris dengan subtitel Arab. Mungkin selundupan dari Lebanon. Konon ada pernah film yang lebih "berani." Mungkin saja. Karena resminya film dilarang, maka sensor pun tidak ada. Karena sensor tak ada, persembunyian di "kandang ayam" itu juga suatu kebebasan yang kebetulan. 

Kebebasan yang insidentil itu pada gilirannya mungkin akan jadi tuntutan yang mengguncangkan - meskipun mudah-mudahan semuanya berlangsung damai. Tapi Raja Feisal wafat ditembak di hari Maulid Nabi 1975. Seorang kemenakannya masuk ke balairung dan membidikkan pistolnya lewat bahu Menteri Minyak Kuwait yang hari itu sedang menghadap Raja. 

Kita tak pernah tahu apa motif pembunuhan itu sebenarnya. Di Ryadh, seorang petugas departemen penerangan Saudi, ketika diminta bercerita kembali tentang kejadian tragis itu, secara samar-samar hanya mengatakan bahwa si pembunuh sehari-harinya bekerja sebagai pengajar di sebuah sekolah tinggi. Ia pernah belajar di Amerika dan sebelumnya banyak mengeluarkan "ucapan yang menentang Islam." Tapi ada juga cerita lain. Si pembunuh membalas dendam atas kematian saudaranya yang dihukum karena merusak tiang TV - ia menentang alat modern itu. 

Kedua versi cerita itu pada akhirnya hanya menunjukkan perubahan yang meletus di ruang yang ketat, pengap, dan tidak siap. 

RAMALAN baku yang terdengar di antara kalangan bisnis dan diplomat asing tentang Arab Saudi ialah: 10 tahun lagi perubahan dramatis bisa terjadi di sini. 

Itu bisa terjadi melalui pergolakan-tapi rasanya itu juga akan terjadi karena perbuatan pemerintah sendiri. Rencana pembangunannya adalah semacam "loncatan besar ke depan," suatu istilah yang bisa kita ambil dari RRT di bawah Mao. Bedanya: di sini loncatan itu tidak oleh tenaga manusia dari dalam, tapi dengan kapital. Repelita ke-II (dimulai 1975) mereka kira-kira 9 x lebih ambisius dari Repelita ke-1 mereka. Bahkan Iran, yang tak kalah hasratnya dalam membelanjakan petrodollar untuk pembangunan, belum setanding Saudi. Target pembelanjaan Iran nyaris cuma separuh target pembelanjaan Saudi, sementara penduduk Iran 5 x lebih banyak ketimbang penduduk Saudi. 

Kini angin yang bertiup di sana tidak cuma berbau pasir, tapi juga debu semen. Pemandangan yang umum adalah bedeng-bedeng konstruksi. Gedung-gedung baru seakan-akan terbengkalai saking banyaknya .... 

Dan datanglah tenaga asing, ahli atau pun pekerja kasar. Di Ryadh Inter-Continental Hotel saja, misalnya, ada 14 pemuda Indonesia. Mereka didatangkan dari Hotel Borobudur, Jakarta, oleh perusahaan hotel itu. Gaji terkecil di sini 1100 riyal atau AS$ 350 per bulan, sementara biaya hidup tiap orang sebulannya adalah 500 riyal. "Orang Arabnya sendiri hanya jadi tenaga bawahan di sini," kata Subiman, 28 tahun, bujangan asal Jawa Tengah yang menyatakan baru beberapa bulan di situ. Orang-orang Indonesia di hotel ini merupakan manager menengah, sedang di atasnya orang-orang Lebanon. 

Bisakah suatu saat "goncangan kebudayaan" dielakkan? Pertemuan dengan orang asing akan makin intensif. Arab Saudi tak cukup memiliki tenaga manusia, dan sebanyak 500.000…

Keywords: Kunjungan KenegaraanArab SaudiRyadhPresiden SoehartoNy. Tien SoehartoRaja FeisalRaja KhalidRepelita IIAbdul Azis bin SaudPangeran FahdPresiden Nixon
Rp. 15.000

Artikel Majalah Text Lainnya

S
Serangan dari Dalam Buat Arafat
1994-05-14

Tugas berat yasser arafat, yang akan masuk daerah pendudukan beberapa hari ini, adalah meredam para…

C
Cinta Damai Onnalah-Ahuva
1994-05-14

Onallah, warga palestina, sepakat menikah dengan wanita yahudi onallah. peristiwa itu diprotes yahudi ortodoks yang…

M
Mandela dan Timnya
1994-05-14

Presiden afrika selatan, mandela, sudah membentuk kabinetnya. dari 27 menteri, 16 orang dari partainya, anc.…