Saatnya Menikmati Emas Hitam

Edisi: 08/32 / Tanggal : 2003-04-27 / Halaman : 130 / Rubrik : LAPUT / Penulis : Budiman, Irfan, Fibri, Rommy, El-Qudsy, Zuhaid


INILAH Irak yang "baru". Inilah Bagdad yang baru. Di kawasan Mansur, Bagdad, wartawan TEMPO Rommy Fibri menyaksikan anak-anak, perempuan, laki-laki, tua, dan muda sudah berani memenuhi jalanan. Mereka tertawa cekakakan, meski begitu banyak tentara AS berjaga-jaga di beberapa sudut kota. Meski terdengar suara tembakan senjata ke angkasa yang dilakukan oleh para milisi dan raungan pesawat di udara, entah bagaimana, penduduk sudah tak lagi cemas karena itu hanya bunyi pesawat AS yang tengah meronda.

Setelah para wartawan melihat kematian dan pembunuhan yang begitu up, close and personal selama hampir sebulan di Bagdad, tiba-tiba saja pemandangan ini menyentuh mereka yang sudah bercokol di Bagdad sejak sebelum invasi AS itu. Toko sudah mulai buka, para pedagang mulai mencoba menjajakan dagangannya, dan para lelaki memangkas rambutnya. Pendeknya, warga Bagdad mencoba sekuat tenaga meniupkan roh ke dalam kota yang sudah hancur lebur itu dengan sisa-sisa kekuatan yang ada.

Benarkah hidup sudah damai? Amerika sang Liberator? Tentu saja tidak. Masyarakat Bagdad semakin galak menyelenggarakan demonstrasi anti-AS di setiap bundaran; para "Ali Baba" menjarah setiap bank; rumah sakit masih penuh sesak oleh korban yang kehabisan obat dan kekurangan peralatan; para sopir terlihat menyedot bensin dari truk tangki (lihat Hari-Hari Terakhir di Bagdad). Inilah nasib negeri tanpa pemerintahan.

Jika ada yang menyamakan peran Jay Garner di Irak dengan Douglas MacArthur pada 1945, itu sebuah analogi yang dipaksakan. Setelah menaklukkan Jepang, MacArthur mendandani negeri itu selama enam tahun. Setelah relatif pulih, memang penduduk Jepang merasa kehilangan. Namun Garner hidup pada tahun 2003. Belum apa-apa, orang yang ditugasi Amerika Serikat menjadi arsitek pemulihan Irak ini sudah ditolak di mana-mana.

Syahdan, di Nasiriyah, kota di bagian selatan Bagdad, saat ia menggelar pertemuan dengan para pemimpin oposisi untuk membicarakan masa depan Irak, Selasa pekan lalu, terlihat Garner memang bukan MacArthur. Ribuan penduduk tiba-tiba memenuhi kota itu dan menggelar unjuk rasa. Menurut mereka, pertemuan yang dipimpin Garner tak lain merupakan upaya AS untuk mencampuri urusan dalam negeri mereka.

Pertemuan yang diikuti delegasi Amerika yang dipimpin Zalmay Khalilzad, perwakilan khusus Gedung Putih bagi kelompok oposisi Irak, itu adalah pertemuan pertama yang diselenggarakan setelah Irak dikuasai AS. Sejatinya, dalam pertemuan ini akan diumuskan langkah-langkah bagi masa depan.

Sayang, tentangan sudah datang. Ini bukan saja karena Majelis Tertinggi Revolusi Islam (SAIRI)—yang merupakan kelompok muslim Syiah terbesar di Irak—menolak hadir dalam pertemuan itu. Bahkan Ahmad Chalabi, pemimpin Kongres Nasional Irak yang diplot…

Keywords: -
Rp. 15.000

Artikel Majalah Text Lainnya

W
Willem pergi, mengapa Sumitro?; Astra: Aset nasional
1992-08-08

Prof. sumitro djojohadikusumo menjadi chairman pt astra international inc untuk mempertahankan astra sebagai aset nasional.…

Y
YANG KINI DIPERTARUHKAN
1990-09-29

Kejaksaan agung masih terus memeriksa dicky iskandar di nata secara maraton. kerugian bank duta sebesar…

B
BAGAIMANA MEMPERCAYAI BANK
1990-09-29

Winarto seomarto sibuk membenahi manajemen bank duta. bulog kedatangan beras vietnam. kepercayaan dan pengawasan adalah…