Keluarga Nol Sampah

Edisi: Edisi / Tanggal : 2021-10-30 / Halaman : / Rubrik : GH / Penulis :


DUA gentong berbahan tanah liat berisi kompos dari limbah rumah tangga mengisi halaman belakang rumah panggung Westiani Agustin. Setiap hari ia dan keluarganya memilah dan mengolah sampah rumah tangga basah dan kering, seperti sisa sayur, kulit buah, dan kulit bumbu dapur. Kompos yang mereka hasilkan dijadikan pupuk tanaman untuk kebun di sekitar rumah mereka di Dusun Sembungan, Desa Bangunjiwo, Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada aneka tumbuhan di sana, dari bunga telang, singkong, srikaya, hingga jati.
Bersama suaminya, Bintang Hanggono, dan kedua anaknya, Westiani menerapkan pola hidup minim sampah. Untuk mengurangi sampah plastik, mereka membawa tas setiap kali belanja kebutuhan sehari-hari atau menenteng wadah saat membeli makanan dan minuman di warung. “Semaksimal mungkin kami tidak menyumbang sampah,” ucap Ani--sapaan akrabnya--kepada Tempo di rumahnya, Senin, 18 Oktober lalu.
Ani, 44 tahun, mulai melakoni hidup minim sampah sejak bergiat dalam bidang pendidikan lingkungan untuk anak di Earthkids Yogyakarta pada 2000-2004. Ia aktif mendampingi warga kampung di Yogyakarta untuk memilah sampah. Sebagian penduduk mengelola bank sampah.
Ia merasa prihatin melihat kerusakan lingkungan akibat sampah yang terus bertambah. Tempat pembuangan sampah terpadu di Kecamatan Piyungan, Bantul, tak lagi sanggup menampung sampah sejak 2016. Setiap hari sekitar 600 ton sampah dari Kabupaten Bantul, Sleman, dan Kota Yogyakarta berjejalan di tempat pembuangan akhir itu.

Andhini Miranda saat mengumpulkan sisa makanan untuk diolah menjadi makanan baru di rumahnya, 28 Oktober 2021/Dok. Andhini Miranda
Pencemaran lingkungan juga mengusik Andhini Miranda sejak 2012. Kala itu ibu rumah tangga yang tinggal di Tangerang Selatan, Banten, itu tengah hamil tua. Ketika sedang melihat-lihat barang keperluan bayi di Internet, ia membaca artikel tentang sampah popok sekali pakai. Andhini paham popok sekali pakai bisa mencegah kotoran bayi bocor, tapi ia kemudian menyadari ada lapisan plastik dalam popok yang sulit terurai di alam.
Andhini, 40 tahun, bahkan kerap menjumpai sampah popok sekali pakai dibuang begitu saja tanpa dibersihkan kotorannya terlebih dahulu. Ia juga kerap melihat popok di sungai yang pada akhirnya mencemari laut. “Dari situ saya mulai menaruh perhatian untuk menerapkan gaya hidup nol sampah,” tutur Andhini, Sabtu, 16 Oktober lalu.
Dari berselancar tersebut, ia mendapati fakta seorang bayi membutuhkan paling sedikit empat popok sehari. “Dalam setahun kira-kira sampah popok mencapai 1.440 buah. Itu baru satu bayi dalam satu rumah,” kata Andhini, yang berpendidikan seni rupa dan desain.



Keywords: Kerusakan LingkunganPencemaran Lingkunganzero wasteSampahPengelolaan Sampah
Rp. 15.000

Artikel Majalah Text Lainnya

T
Tak Terpisahkan Capek, Jazz, dan Bir
1993-10-02

Sejumlah eksekutif mencari dunia lain dengan mendatangi kafe. kafe yang menyuguhkan musik jazz jadi rebutan.…

A
AGAR MISS PULSA TIDAK KESEPIAN
1993-02-06

Pemakaian telepon genggam atau telepon jinjing kini tak hanya untuk bisnis tapi juga untuk ngobrol.…

I
INGIN LAIN DARI YANG LAIN
1992-02-01

Festival mobil gila dalam pesta otomotif 92 di surabaya akan diperlombakan mobil unik, nyentrik dan…