Ritual Mengenang Cucu Nabi (Agama dan Masyarakat Era 1970an)
BONDONGAN laki-laki itu berpakaian putih-putih. Berjalan lambat. Mereka memekik-mekik: "Haidar! Haidar!". Di tangan mereka masing-masing sebilah pedang. Pedang itu berkali-kali diangkat ke kepala yang sudah digundul licin, lalu: crap! Darah mengalir dari sana. Mereka terus berjalan dan memekik-mekik. Adegan itu merupakan acara puncak dari satu perayaan keagamaan setahun sekali di Karbala, Irak, tiap tangan 10 Muharram. Dengan cara seperti itu kaum Syi'ah memperingati peristiwa malang yang menimpa diri Saidina Husain, putera Ali, cucu Muhammad s.a.w lewat puteri beliau, Fathihah. Pada tanggal tersebut, di Karbala, Husain dipenggal kepalanya oleh bala tentara Yazid bin Mu'awiah. Perisliwa ini, yang merupakan satu mata rantai dalam konflik politik yang berlarut-larut, bagi sementara umat muslimin kemudian menjadi satu pokok penting keagamaan. Ia merupakan puncak rasa pedih kaum Syi'ah --- bermula dari pengikut Ali, ayah Husain dan menantu Nabi -- yang terdapat misalnya di Iran, Irak, sebagian Afrika ataupun India. Karbala sendiri lantas menjadi kota suci dan pusat spirituil, dan dari sana muncul berbagai legenda keagamaan yang aneh-aneh (TEMPO 23 Desember 1972).
Keywords :Ritual Mengenang Cucu Nabi (Agama dan Masyarakat Era 1970an),
-
Downloads :0
-
Views :209
-
Uploaded on :24-12-2023
-
PenulisPDAT
-
Publisher
TEMPO Publishing -
EditorTim Penyusun PDAT: Ismail, Asih Widiarti, Dani Muhadiansyah, Evan Koesumah
-
SubjekSejarah
-
BahasaIndonesia
-
Class-
-
ISBN-
-
Jumlah halaman60
Ritual Mengenang Cucu Nabi (Agama dan Masyarakat Era 1970an)
Alamat
PDAT Gedung Tempo Jl. Palmerah Barat No. 8 Jakarta 12210
Kontak
Phone / Fax: 62-21 536 0409 (ext. 321) / 62-21 536 0408
WA : 62 838 9392 0723
Email : [email protected]
Support
Support Datatempo
