Varian Delta Mengganas, Indonesia Waswas

oleh:

Faisal Javier

Kamis, 24 Juni 2021 21:26 WIB

Varian Covid-19, Delta, hadir sebagai ancaman baru saat angka kasus positif dan kematian harian akibat Covid-19 sedang menurun. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Public Health England, varian Delta dapat menyebar lebih cepat dibandingkan varian-varian lain yang ditemukan di Inggris.

Varian Delta hanya butuh 32 hari untuk menyentuh angka ribuan kasus sejak kasus kelima dilaporkan pertama kali. Sebagai perbandingan, varian Beta yang pada hari ke-32 menjadi varian dengan penyebaran tercepat kedua hanya berada di angka 103 kasus, sedangkan varian Delta di hari yang sama telah menyentuh sekitar 10 kali lipatnya, yakni 1.038 kasus. Bahkan dalam jangka waktu kurang dari 100 hari telah tercatat 60.600 kasus yang diakibatkan varian Delta.

Di lingkup global, laporan Perkembangan Epidemiologis Mingguan WHO memaparkan bahwa varian Alpha masih menjadi varian dominan dengan tersebar di 170 negara, disusul Beta di 119 negara, dan Delta di 85 negara. Meski demikian, WHO tidak menutup mata atas ancaman varian Delta.

“Varian Delta adalah yang paling kuat dan cepat (penyebarannya),” ujar Mike Ryan, Direktur Eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO pada 22 Juni 2021.

Di sisi lain, varian ini juga menimbulkan gejala yang berbeda dibanding gejala Covid-19 umumnya. Epidemiolog King’s College London Tim Spector menyebut gejala yang ditimbulkan varian ini menyerupai flu berat yang biasa muncul musiman. Gejala yang muncul adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, pilek, dan demam.

“Orang-orang mengira mereka hanya terkena flu musiman, sehingga mereka masih pergi ke pesta, dan mereka dapat menulari enam orang lainnya,” kata Spector.

Sementara di Indonesia, per 20 Juni 2021 telah tercatat 160 kasus Covid-19 yang diakibatkan varian Delta berdasarkan catatan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Kasus terbanyak ada di Jawa Tengah sebanyak 80 kasus.

Kabar baiknya, vaksin masih ampuh mengatasi varian ini. Berdasarkan rilis Public Health England, vaksin Pfizer 96 persen efektif mengatasi pemberatan gejala setelah dua kali suntikan. Sedangkan dengan dosis yang sama, vaksin AstraZeneca memiliki efektivitas 92 persen.