Jumlah dan Tingkat Vaksinasi di Asia

oleh:

Faisal Javier

Senin, 28 Juni 2021 20:32 WIB

Asia sejauh ini menjadi wilayah dengan pemberian dosis vaksin Covid-19 terbanyak. Berdasarkan catatan proyek penelitian Our World in Data, 1,78 miliar dosis vaksin telah diberikan di Asia, sementara 2,92 miliar dosis vaksin telah diberikan di seluruh dunia. Dengan kata lain, Asia menyumbang 61 persen dari dosis vaksin yang telah diberikan di dunia.

Cina menjadi negara Asia dengan pemberi dosis vaksin terbanyak, yakni 1,17 miliar dosis atau 65 persen dari keseluruhan dosis yang telah diberikan di Asia. Jumlah tersebut tidak hanya terbanyak di Asia, melainkan juga seluruh dunia. India menyusul dengan 314,8 juta dosis, kemudian Turki sebanyak 47,08 juta dosis. Indonesia menempati peringkat keempat dengan 39,05 juta dosis.

Apabila diukur dengan jumlah penduduk yang menerima dosis lengkap, Cina mencatat 223 juta penduduk telah mendapat dosis lengkap, disusul India sebanyak 54,6 juta penduduk kemudian Turki sebanyak 14,8 juta penduduk, dan Indonesia sebanyak 13,01 juta penduduk.

Meski menyumbang jumlah pemberian dosis vaksin terbanyak di dunia, Asia menjadi wilayah dengan rasio dosis vaksin per 100 penduduk terkecil, di atas Afrika dan Oseania. Rasio Asia sejauh ini sebesar 38,45, berada di atas rasio rata-rata dunia sebesar 37,48, namun di bawah Amerika Utara, Eropa, dan Amerika Selatan.

Uni Emirat Arab menjadi negara Asia dengan rasio dosis vaksin per 100 penduduk terbesar yakni 152,1, disusul Israel sebesar 123,56, dan Bahrain sebesar 118,67. Sedangkan rasio Indonesia sebesar 14,28.

Meski menjadi wilayah penyumbang dosis vaksin diberikan terbanyak di dunia, masih banyak negara di Asia dengan tingkat vaksinasi rendah. Suriah dan Yaman menjadi negara Asia dengan rasio dosis vaksin per 100 penduduk terkecil kurang dari 1. 

Tingkat vaksinasi rendah di beberapa negara Asia tidak terlepas dari permasalahan ketimpangan vaksin yang terjadi secara global. Pada Maret lalu WHO telah menaruh perhatian terhadap masalah ini.

“Ketimpangan distribusi vaksin tidak hanya merugikan secara moral, tapi juga dari sisi ekonomi dan epidemiologis,” ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom.