Varian Delta Mengglobal, Ada di Hampir 100 Negara

oleh:

Faisal Javier

Rabu, 14 Juli 2021 18:34 WIB

Berdasarkan data platform data kesehatan terbuka Global Initiative on Sharing Avian Influenza Data (GISAID) per 14 Juli 2021, kini Covid-19 varian Delta dan mutasinya, Delta Plus, kini telah ditemukan di 96 negara. Inggris Raya menjadi negara dengan temuan jumlah  kasus terbanyak akibat varian yang pertama kali ditemukan di India itu, sebanyak 130.757 kasus. Varian Delta pun menyumbang 99 persen dari jumlah kasus Covid-19 di Britania dalam kurun waktu 4 minggu terakhir.

Berdasarkan temuan Public Health England pada bulan Juni lalu, varian Delta memang menjadi varian yang paling cepat menyebar di Inggris Raya dibanding varian-varian lain. Di saat varian dengan penyebaran tercepat kedua, Beta, baru menimbulkan 103 kasus, Delta telah menghasilkan kasus sebanyak 10 kali lipatnya. Bahkan varian ini telah menimbulkan sekitar 60.000 kasus kurang dari 100 hari.

Dampak dahsyat varian Delta menjadi ancaman bagi Inggris yang berencana mencabut aturan pembatasan sosial secara penuh pada 19 Juli nanti. Beberapa ahli pun menentang rencana yang dianggap terburu-buru itu.

Negara dengan temuan kasus varian Delta terbanyak selanjutnya adalah Amerika Serikat (AS) dengan jumlah 14.205 kasus, disusul India dengan 12.023 kasus. Namun sumbangan varian Delta  terhadap kasus Covid-19 di AS dalam 4 minggu terakhir baru 59 persen, sedangkan di India mencapai 98 persen.

Negara tetangga Singapura juga menjadi salah satu negara dengan sumbangan varian Delta terbanyak, mencapai 97 persen dari jumlah kasus Covid-19 dalam 4 minggu terakhir di Singapura. Indonesia sendiri berada di peringkat ke-19 dengan jumlah kasus tercatat sebanyak 657 kasus. Akan tetapi data GISAID mencatat varian Delta menyumbang 94 persen kasus Covid-19 di Indonesia dalam 4 minggu terakhir. 

Berdasarkan data Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan (Balitbangkes), terdapat 615 kasus Covid-19 yang ditimbulkan varian Delta. Sumbangan terbanyak ada di DKI Jakarta sebanyak 264 kasus, disusul Jawa Barat sebanyak 183 kasus, dan Jawa Tengah 92 kasus.

Namun sejumlah epidemiolog memprediksi penyebaran kasus varian delta jauh lebih banyak dari data pemerintah. Untuk mendeteksi kasus varian delta dibutuhkan laboratorium dengan kemampuan proses whole genome sequencing (WGS), sedangkan laboratorium serupa yang dimiliki Indonesia sangat terbatas. Sehingga, jumlah sekuens yang diperiksa terlampau sedikit dan tidak menampilkan gambaran sesungguhnya.

Untuk mengakali keterbatasan itu,  Menkes Budi Gunadi Sadikin berencana memerintahkan para pemeriksa agar mengikutsertakan hasil CT Value tes PCR ke dalam sistem Kemenkes. Sehingga, pemerintah bisa memetakan potensi penyebaran varian Delta di Indonesia. Daerah dengan CT Value rata-rata di bawah angka 20 atau bahkan 10 kemungkinan besar telah terpapar varian Delta.