Negara-negara yang Mencampur Vaksin Covid-19

oleh:

Faisal Javier

Jumat, 16 Juli 2021 19:47 WIB

Dilansir dari Reuters, terdapat 10 negara yang berencana untuk menyuntikkan dua merek vaksin Covid-19 yang berbeda. Antara lain Indonesia, Thailand, Vietnam, China, Korea Selatan, Bhutan, Bahrain, Uni Emirat Arab, Italia, dan Kanada. 

Terdapat beragam alasan negara-negara itu mencampur vaksin Covid-19 dari merek berbeda. Mayoritas melakukan hal itu untuk memperkuat kekebalan tubuh terhadap paparan berbagai varian Covid-19 terbaru yang lebih ganas, salah satunya Delta. Seperti Indonesia yang menggunakan vaksin Moderna hibah dari Amerika Serikat (AS) sebagai booster atau penguat bagi para tenaga kesehatan yang telah menerima dua dosis Sinovac. Sedangkan Thailand akan menyuntikkan AstraZenecca bagi mereka yang telah mendapat satu dosis Sinovac.

Alasan lain adalah terbatasnya suplai vaksin dari merek yang telah digunakan sebagai dosis pertama seperti yang terjadi di Korea Selatan dan Bhutan. Sedangkan Italia melalui badan kesehatan AIFA pada Juni lalu telah mengizinkan penggunaan merek berbeda untuk dosis kedua vaksin setelah kasus kematian seorang remaja akibat penggumpalan darah pasca mendapat dosis pertama AstraZenecca.

Dilansir pula dari Reuters, temuan awal sebuah penelitian di Spanyol pada bulan Mei lalu menunjukkan bahwa kombinasi vaksin AstraZenecca dan Pfizer sangat aman dan efektif. Peneliti India pada Juni lalu juga mengungkapkan berdasarkan studi awal bahwa kombinasi vaksin dapat meningkatkan efikasi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa pencampuran vaksin tidak bisa diputuskan oleh individu, melainkan oleh badan kesehatan berdasarkan data yang tersedia.

“Kami sedang menanti data penelitian mencampur dan memasangkan vaksin yang berbeda (merk)- imunogenisitas dan keamanan keduanya perlu dievaluasi,” kata Kepala Ilmuwan WHO Soumya Swaminathan melalui Twitter, Selasa 13 Juli 2021 dinihari. Pernyataan itu dikeluarkan untuk mengklarifikasi pernyataannya dalam konferensi pers pada sore hari sebelumnya yang disalahartikan sebagai peringatan untuk tidak mencampur vaksin yang berbeda merek.