Harga Tes PCR dan Antigen di Bandara India Termurah Versi Skytrax, Bagaimana dengan Indonesia?

oleh:

Faisal Javier

Selasa, 17 Agustus 2021 16:43 WIB

Harga tes polymerase chain reaction (PCR) di Indonesia sedang jadi sorotan. Pasalnya, dengan batas atas Rp 900 ribu, harga tes itu dianggap terlalu mahal. Presiden Joko Widodo atau akrab dikenal Jokowi pun memerintahkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk menurunkan harga tes PCR.

“Saya sudah berbicara dengan Menteri Kesehatan mengenai hal ini, saya minta agar biaya tes PCR berada di kisaran antara Rp 450.000 sampai Rp 550.000,” kata Jokowi dalam keterangannya melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Ahad, 15 Agustus 2021.

Dengan menurunkan harga tes, Jokowi berharap jumlah tes Covid-19 Indonesia semakin meningkat. Tidak hanya itu, ia juga menginstruksikan agar hasil tes PCR bisa diketahui dalam waktu lebih cepat.

“Saya meminta agar tes PCR bisa diketahui hasilnya dalam waktu maksimal 1X24 jam. Kita butuh kecepatan,” ujar Jokowi dalam kesempatan yang sama.

Selain di fasilitas kesehatan (faskes), jasa layanan tes PCR juga umum dijumpai di bandara. Sebagai tempat berlalu-lalang banyak orang dari berbagai tempat di seluruh dunia, kehadiran tes PCR dibutuhkan sebagai alat deteksi dini keberadaan virus corona yang sangat mungkin menyertai para pelaku perjalanan.

Perusahaan konsultan riset penerbangan Skytrax merilis data harga tes PCR di 70 bandara seluruh dunia. Berdasarkan temuan Skytrax, harga tes PCR termahal disabet oleh Bandara Internasional Kansai, Osaka, Jepang yang memiliki harga 404 dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 5,8 juta rupiah. 

Sedangkan harga termurah dimiliki Bandara Mumbai, India senilai 8 USD atau setara Rp 115 ribu rupiah. Bandara New Delhi, India menempati peringkat kedua harga tes PCR termurah seharga 11 USD atau Rp 158.092.

Indonesia diwakili oleh dua bandara, yakni Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar, Bali, dan Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta. Bandara Ngurah Rai menempati peringkat 47 termahal dengan harga tes PCR sebesar 61 USD atau Rp 877 ribu, sedangkan Bandara Soekarno-Hatta ada di ranking 49 dengan harga tes sebesar 54 USD atau Rp 776 ribu.

Harga tes PCR di bandara-bandara Eropa termasuk tinggi karena nilainya di atas Rp 1 juta. Bandara-bandara di Jerman menawarkan tes PCR seharga 80 USD atau Rp 1,15 juta. Sedangkan harga tes PCR di  Inggris mulai 82 dolar AS hingga 135 USD atau Rp 1,17 juta sampai 1,9 juta. 

Tapi ada juga bandara di Eropa yang menawarkan harga tes PCR di bawah Rp 1 juta, yakni Bandara Riga, Latvia senilai Rp 632 ribu. Harga tes PCR di bandara-bandara AS juga tergolong mahal, bervariasi dari 106 USD hingga 260 USD atau Rp 1,5 juta sampai Rp 3,75 juta.

Selain tes PCR, tes antigen juga jadi alternatif tes bagi para pelaku perjalanan. Harganya yang lebih murah dan kecepatan hasil tes jadi pilihan yang lebih ramah kantong meski efektivitasnya kalah dibanding tes PCR.

 

 

Sama seperti tes PCR, harga tes antigen di bandara-bandara Eropa dan AS tergolong tinggi. Harga tes antigen termahal dipegang oleh Bandara Helsinki, Finlandia seharga 214 USD atau sekitar Rp 3 juta. Harga tes antigen di bandara-bandara Eropa berkisar antara Rp 300 ribu hingga Rp 3 juta. Sedangkan harga tes antigen di bandara-bandara AS berkisar antara 80 USD atau Rp 1,15 juta sampai 149 USD atau Rp 2,14 juta.

Harga termurah lagi-lagi dimiliki Bandara Mumbai, India. Dengan harga 2 USD atau Rp 28 ribu saja, pelaku perjalanan dapat menjalani tes antigen. Sedangkan Bandara Soekarno-Hatta bersama Bandara Incheon, Korea Selatan menempati peringkat kedua harga tes antigen termurah dengan harga hampir 10 kali lipat harga tes antigen di Bandara Mumbai, yakni 14 USD atau Rp 201 ribu. Sementara Bandara Ngurah Rai menempati peringkat keempat termurah dengan harga 17 USD atau Rp 244 ribu.