Tembus 1 Miliar Pengguna, TikTok Hanya Butuh 5 Tahun

oleh:

Faisal Javier

Sabtu, 9 Oktober 2021 11:55 WIB

Melalui halaman resminya, media sosial TikTok mengumumkan bahwa platform tersebut telah menembus 1 miliar pengguna pada 27 September 2021. Pertama kali rilis pada September 2016, platform itu hanya butuh waktu 5 tahun untuk menggaet 1 miliar pengguna.

Berdasarkan temuan Chartr, capaian TikTok itu mengalahkan media sosial lainnya. Whatsapp, misalnya, butuh waktu sekitar 6 tahun 2 bulan untuk menjaring jumlah pengguna sebanyak 1 miliar. Sementara Facebook jadi media sosial yang butuh waktu terlama untuk mencapai jumlah 1 miliar pengguna. Pertama kali meluncur pada Februari 2004, Facebook baru memperoleh 1 miliar pengguna pada Oktober 2012, alias butuh waktu 8 tahun 8 bulan. 

Dilansir dari The Verge, popularitas TikTok melonjak selama pandemi Covid-19 yang bermula pada 2020. Pada kuartal pertama tahun itu, TikTok jadi aplikasi paling banyak diunduh, sebanyak 315 juta kali, menurut perusahaan analisis SensorTower. Perusahaan yang menaungi TikTok, ByteDance melaporkan pendapatannya pada 2020 mencapai 34,3 miliar dolar AS, melebihi dua kali pendapatan tahun sebelumnya.

Richard Windsor, pendiri perusahaan riset Radio Free Mobile, menyebut bahwa ByteDance memiliki kemampuan hebat, “Menciptakan algoritma yang dapat mengkategorikan konten video dan mencocokkannya dengan orang-orang yang akan menyukai video itu.” Menurut Windsor, ByteDance bahkan lebih unggul dari Google dalam kemampuan menciptakan algoritma, terbukti dari capaian TikTok yang berhasil memperoleh 1 miliar pengguna.

Keberhasilan TikTok membuat media sosial lain berusaha meniru fitur TikTok. Instagram, yang dimiliki Facebook, meluncurkan fitur Reels. Snapchat menciptakan Spotlight, dan bahkan sesama media sosial berbasis video, YouTube, meluncurkan YouTube Shorts sebagai pesaing TikTok.

Dengan tren yang berjalan saat ini, Chartr memperkirakan media sosial yang baru meluncur hari ini dapat mencapai jumlah pengguna miliaran lantaran siklus adopsi teknologi yang berjalan cepat. Meski Chartr juga mempertanyakan seberapa banyak model teknologi tersisa yang dapat dimanfaatkan perusahaan media sosial untuk berkembang.