Jumlah Kelas Konsumen Indonesia Diperkirakan Bertambah Hampir 76 Juta Jiwa pada 2020-2030

oleh:

Faisal Javier

Rabu, 20 Oktober 2021 20:46 WIB

Lembaga riset World Data Lab memperkirakan jumlah kelas konsumen di Indonesia akan bertambah sekitar 75,8 juta jiwa pada periode 2020-2030. Pertambahan itu turut mengangkat posisi Indonesia ke peringkat empat dunia dalam jumlah kelas konsumen per negara, dari ranking enam di periode sebelumnya. Pada tahun 2030, Indonesia diperkirakan akan memiliki kelas konsumen sebanyak 200 juta orang. Kelas konsumen didefinisikan sebagai orang dengan pengeluaran sebesar US$ 11 per hari, atau sekitar Rp 157 ribu.

Indonesia menggeser posisi Rusia dan Jepang yang sebelumnya menempati peringkat empat dan lima. Dengan pertambahan kelas konsumen hanya sebesar 1,4 juta orang, Rusia pun turun ke peringkat lima. Sementara Jepang justru mengalami pengurangan jumlah kelas konsumen sebanyak 4,9 juta orang, dan turun ke posisi delapan.

Pertambahan jumlah kelas konsumen terbanyak dialami oleh India, yakni hingga 419,5 juta jiwa selama 10 tahun. Selanjutnya adalah Cina dengan pertambahan kelas konsumen sebanyak 336,9 juta jiwa dalam periode yang sama. Namun Cina masih menempati peringkat pertama jumlah kelas konsumen terbanyak dunia, lalu India di peringkat dua, kemudian Amerika Serikat di peringkat tiga.

Dua analis ekonomi, Homi Kharas dan Wolfgang Fengler dalam publikasinya di Brookings Institution menyebut bahwa Covid-19 tidak mempengaruhi pertumbuhan jumlah kelas konsumen global. Pandemi hanya menjadi hambatan sementara selama satu hingga dua tahun dalam jangka panjang,

Keduanya juga menyebut Asia kini merupakan pusat kelas konsumen global. Mereka memperkirakan setengah dari jumlah kelas konsumen global pada 2032 berasal dari kawasan Asia. Tidak hanya Indonesia, pertumbuhan pesat jumlah kelas konsumen diperkirakan juga akan dialami Bangladesh, Pakistan, dan Filipina.

Sementara di sejumlah negara maju seperti Spanyol, Prancis, dan Kanada, pertambahan jumlah kelas konsumen relatif sedikit dibanding negara-negara berkembang di Asia. Bahkan terjadi penurunan jumlah kelas konsumen pada Jerman, Jepang, dan Italia. Statista menyebut, fenomena itu terjadi lantaran jumlah penduduk di negara-negara itu yang stagnan atau bahkan menurun dalam beberapa tahun terakhir.