Jumlah Remaja Pengguna Aktif Facebook Menurun dalam Hampir 10 Tahun

oleh:

Faisal Javier

Sabtu, 13 November 2021 17:46 WIB

Kebocoran dokumen internal Facebook—Facebook Papers—mengungkap salah satu permasalahan yang dihadapi Facebook. Yakni eksodus pengguna remaja dan orang dewasa muda dari media sosial itu.

Pada puncak kejayaannya sekitar awal periode 2010-an, umum dijumpai setiap remaja turut menggunakan Facebook. Berdasarkan survei yang dilakukan Pew Research, 94 persen dari kalangan remaja—usia 12-17 tahun— memiliki satu akun Facebook.

Namun kini situasinya berbeda. Berdasarkan riset yang dilakukan Piper Sandler pada 17 Agustus-16 September 2021, kini tersisa hanya 27 persen remaja yang masih aktif menggunakan Facebook. 

Dilansir dari Business Insider, Facebook memperkirakan bahwa jumlah pengguna remaja platform itu akan turun 45 persen dalam dua tahun ke depan. Facebook sendiri telah mengalami penurunan jumlah pengguna remaja sebesar 13 persen pada 2019. Data itu merupakan bagian dari salah satu data yang terdapat dalam Facebook Papers.

Para remaja yang aktif menggunakan Facebook pada awal 2010-an mungkin tidak menghapus akun mereka, tetapi sederhananya mereka kini tidak lagi dikategorikan sebagai remaja. Sementara remaja generasi terbaru, berdasarkan wawancara yang dilakukan Business Insider, sebagian besar memandang Facebook sebagai media sosial generasi tua.

Sebagian dari mereka memilih beralih ke media sosial lain seperti TikTok, Instagram, atau Snapchat yang lebih cocok bagi mereka. Padahal, Facebook pun telah menambahkan sejumlah fitur yang mencontek fitur-fitur di aplikasi itu. Namun karena media sosial itu lekat dengan generasi tua, maka mereka pun tidak tertarik sama sekali dengan upaya itu.

Ada pula yang menyebut isi konten di Facebook terlalu random sehingga memilih meninggalkan platform itu. Sedangkan narasumber lain enggan menggunakan Facebook lantaran keamanan data yang tidak terjamin, serta rekam jejak buruk Facebook dalam konflik politik yang terjadi di platform itu. 

Konflik politik yang dimaksud adalah pembiaran terhadap cuitan Facebook mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam demonstran pada 2020. Para demonstran penentang hasil Pilpres AS 2020 juga diketahui memanfaatkan platform itu untuk berkonsolidasi.

Facebook juga terjerat skandal Cambridge Analytica. Data jutaan pengguna platform itu bocor dan disalahgunakan oleh perusahaan konsultan politik Cambridge Analytica untuk pemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS 2016. 

Setelah sejumlah dokumen internal perusahaan bocor ke publik, perusahaan media sosial Facebook mengubah nama menjadi Metaverse. Sejumlah pihak melihat langkah itu sebagai upaya rebranding setelah skandal itu, meski pendiri Facebook Mark Zuckerberg menepis dugaan itu.