Neraca Perdagangan Indonesia pada November 2021 Masih Surplus Meski Jumlahnya Menurun

oleh:

Faisal Javier

Kamis, 16 Desember 2021 13:11 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada November 2021 mengalami surplus US$ 3,51 miliar. Keuntungan itu didapat dari pengurangan nilai ekspor sebesar US$ 22,84 miliar dengan nilai impor sejumlah US$ 19,33 miliar.

"Surplus ini karena ekspor kita masih lebih tinggi dari impor," ujar Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers, Rabu, 15 Desember 2021.

Surplus neraca perdagangan pada bulan November 2021 merupakan surplus untuk kesembilan belas kali secara berturut-turut. Namun nilainya lebih kecil dari surplus neraca perdagangan di bulan sebelumnya yang mencapai US$ 5,74 miliar.

Apabila diukur perubahannya per tahun (year-on-year) dengan November 2020, maka neraca perdagangan November 2021 meningkat 35,5 persen. BPS mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada November 2020 sebesar US$ 2,59 miliar.

Berdasarkan pengamatan BPS, surplus dari transaksi perdagangan sektor non-migas sebenarnya lebih tinggi, yakni US$ 5,20 miliar. Tetapi, angka tersebut mengalami reduksi akibat defisit perdagangan pada sektor migas sebesar US$ 1,69 miliar.

 

Berdasarkan nilai transaksi dengan negara mitra dagang, Indonesia membukukan surplus atas Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 1,8 miliar, Filipina US$ 801,8 juta, dan Malaysia US$ 687,8 juta. Pada bulan sebelumnya, Indonesia juga meraup keuntungan dari perdagangan dengan Amerika Serikat hingga US$ 1,7 miliar.

Sedangkan defisit perdagangan Indonesia didapat dari hubungan ekspor impor dengan Thailand sebesar US$ 405,2 juta, Cina US$ 366,4 juta, dan Australia US$ 345,4 juta. 

Meski Cina masih jadi tujuan utama ekspor non-migas Indonesia, tetapi terjadi penurunan nilai ekspor dibanding bulan sebelumnya. Di sisi lain, terjadi peningkatan nilai impor barang non-migas dari Cina paa November 2021. Sehingga transaksi perdagangan dengan Cina pada November 2021 mengalami defisit.