Harga Rata-rata Kedelai Impor Februari 2022 Capai Rp 12.600 per Kg, Tertinggi Sejak 2018

Selasa, 22 Februari 2022 15:24 WIB

Situs Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan menyebut bahwa harga rata-rata kedelai impor nasional kemarin mencapai Rp 12.800 per kilogram. Dengan demikian, harga rata-rata nasional sepanjang bulan Februari sebesar Rp 12.600 per kilogram. 

Harga rata-rata itu didapat dari tren harga kedelai sepanjang Februari di hampir seluruh provinsi. Terdapat 3 provinsi yang tidak terdapat datanya dalam situs ini, yakni Gorontalo, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.

Secara nasional, harga rata-rata kedelai impor termahal sepanjang Februari adalah di Maluku, mencapai Rp 15 ribu per kilogram. Sebaliknya, harga rata-rata termurah adalah di Bengkulu, yakni Rp 11.100 per kilogram. Tren ini turut menggambarkan kondisi harga rata-rata kedelai impor di luar Jawa, yang harganya mencapai Rp 12.700 per kilogram.

Di Pulau Jawa, harga rata-rata kedelai impor sepanjang Februari adalah Rp 12.300 per kilogram. Harga termurah adalah di Jawa Tengah, yakni Rp 11.200 per kilogram. Sedangkan harga termahal didapat di DKI Jakarta, sebesar Rp 13.900 per kilogram.

 

Dalam 12 bulan terakhir, harga kedelai impor di tingkat nasional memang cenderung melonjak. Harga sempat stabil di angka Rp 12.400 per kilogram pada Juli hingga September 2021, bahkan sempat menurun ke angka Rp 12.300 pada Oktober hingga November 2021. Setelah itu, harga kembali merangkak naik, dan menembus Rp 12.600 di bulan ini per kemarin.

 

 

Dibandingkan tahun ke tahun atau year-on-year (yoy), harga kedelai impor nasional di Februari 2022 juga menjadi yang tertinggi sejak 2018. Harga sempat menurun 4,67 persen pada Februari 2019, kemudian stagnan di Februari 2020. Lalu naik kembali 12,57 persen di Februari tahun lalu.

Fluktuasi harga kedelai pun mendorong aksi mogok produksi dan dagang perajin tahu tempe di seluruh Indonesia pada 21 hingga 23 Februari 2022. Mereka menuntut pemerintah untuk mengontrol tata niaga kedelai. 

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan kenaikan harga kedelai di Indonesia karena beberapa permasalahan dari negara importir, salah satunya adalah cuaca buruk El Nina di kawasan Amerika Selatan. Selain itu, kenaikan harga keledai karena Cina memiliki lima miliar babi baru yang membutuhkan pakan dari kedelai.