Diprediksi Defisit Tahun Ini, Berapa Arus Kas Operasional Tahunan Pertamina Selama Ini?

Rabu, 25 Mei 2022 21:09 WIB

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memprediksi bahwa arus kas operasional Pertamina akan mengalami defisit pada Desember tahun ini. Sri Mulyani mengestimasikan defisit arus kas Pertamina mencapai US$ 12,98 miliar atau setara dengan Rp 190,8 triliun dalam kurs Rp 14.700 per dolar Amerika Serikat pada Desember 2022. Estimasi itu bisa terjadi jika tidak ada tambahan penerimaan dari pemerintah.

Defisit ini terjadi lantaran harga minyak dunia melejit. Menurut Sri Mulyani, hingga kini harga jual eceran bensin jenis Pertalite berada di angka Rp 7.650 per liter. Sedangkan harga keekonomian bensin ini adalah Rp 12.556 per liter. Bahkan di bulan Maret lalu, arus kas operasional Pertamina telah defisit US$ 2,4 miliar.

Apabila estimasi Sri Mulyani terjadi, maka Pertamina akan mengalami defisit arus kas operasional untuk pertama kalinya, setidaknya sejak 2006. Berdasarkan riset Tempo terhadap laporan keuangan tahunan Pertamina yang tercantum di situs resmi perusahaan sejak 2006 hingga 2020, Pertamina selalu membukukan arus kas operasional positif setiap tahunnya. 

Bahkan ketika pandemi coronavirus disease 2019 (Covid-19) mulai merebak pada 2020, Pertamina dapat memperoleh arus kas operasional senilai US$ 7,77 miliar, lebih tinggi dibandingkan perolehan di tahun 2019. Meski penerimaan kas dari pelanggan dan pemerintah pada tahun itu menurun dibanding tahun 2019, tetapi penggunaan kas untuk pembayaran pada pemasok, pemerintah, dan pajak penghasilan badan mengalami penurunan. 

Tren positif ini masih berlanjut di tahun kemarin, yang merupakan tahun kedua pandemi Covid-19 berlangsung. Namun, nilainya mengalami penurunan. Dalam presentasi yang dipaparkan Sri Mulyani, tercantum bahwa nilai arus kas operasional Pertamina pada Desember 2021 sebesar US$ 4,06 miliar. Hingga kini, belum ada dokumen laporan keuangan Pertamina 2021 yang telah diaudit.

Sebagai informasi, visualisasi yang tertera di atas dimulai sejak 2012, meski Tempo melakukan pemantauan terhadap seluruh laporan keuangan tahun 2006-2020. Ini karena nilai yang tertera pada laporan keuangan tahun 2006 hingga 2011 masih dalam Rupiah, sedangkan sejak 2012, Pertamina menggunakan nilai dolar Amerika dalam laporan keuangannya.