Serba-serbi Pekerja Migran Indonesia: Permasalahan, Penempatan, hingga Jenis Profesi

Selasa, 13 September 2022 17:40 WIB

Dalam dua bulan terakhir, bermunculan sejumlah kasus terkait pekerja migran Indonesia. Pada Agustus lalu, pemetik buah asal Indonesia di wilayah Kent, Inggris, dilaporkan tidak mendapat upah yang sesuai sampai harus terlilit utang puluhan juta rupiah. 

Kemudian seorang asisten rumah tangga asal Indonesia, Zailis, dilaporkan mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh majikannya di Malaysia.

Menurut data laporan pengaduan BP2MI (Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia), terdapat beragam permasalahan yang dihadapi Pekerja Migran Indonesia. Mulai dari permasalahan terlalu lama menetap (overstay) hingga perdagangan manusia. 

 

Lantas BP2MI juga mencatat bahwa jumlah Pekerja Migran Indonesia mengalami penurunan pada kurun waktu 2020 hingga 2021, di saat wabah Covid-19 masih merebak. Sedangkan pada semester 1 tahun 2022, jumlah Pekerja Migran Indonesia berada di angka 62.187 orang, mendekati total pekerja migran Indonesia pada tahun 2021. 

 

Berdasarkan asalnya, sejak tahun 2019 hingga semester 1 2022, Pekerja Migran Indonesia sebagian besar dari Pulau Jawa. Kemudian beberapa provinsi di Sumatera seperti Lampung dan Sumatera Utara, juga memiliki sumbangan angka signifikan. 

 

Dalam tiga tahun terakhir, Turki adalah negara dengan  penempatan Pekerja Migran Indonesia terbanyak, disusul Jepang dan Polandia. Namun, untuk semester 1 tahun 2022, Hongkong dan Taiwan menjadi negara dengan penempatan Pekerja Migran Indonesia terbanyak dengan total masing-masing sebanyak 24.753 dan 17.890 pekerja. 

 

Untuk jenis profesi, tren tahun 2019 hingga 2022 menunjukkan bahwa Pekerja Migran Indonesia paling banyak berprofesi sebagai asisten rumah tangga. Selain itu, perhitungan rata-rata menunjukkan bahwa profesi yang paling banyak dijalani para Pekerja Migran Indonesia adalah pengasuh dan buruh. 

PUJA PRATAMA RIDWAN