A. MATTULADA
Suatu ketika, ia mengaku, ''Saya kebetulan lahir di suatu masyarakat yang lain dari apa yang dipilah secara trikotomis oleh Geertz.'' Maksudnya: masyarakat abangan, priayi, dan santri -- sebagaimana ditelaah Clifford Geertz dalam bukunya The Religion of Java. Mat, demikian ia biasa dipanggil, lahir sebagai anak sulung dari lima bersaudara.
Ayahnya, A. Palellungi Dg. Manrapi, pensiunan kepala wanua (negeri), seorang Muhammadiyah yang diminta kembali memegang kedudukan adat. Bersekolah di Mualimin Muhammadiyah, Mat juga beroleh pendidikan Belanda. ''Terciptalah dalam diri saya dua pola secara bersamaan, adat dan agama,'' tuturnya.
Mungkin latar belakang ini yang menyebabkan Mat tidak betah menjadi polisi. Padahal, sempat enam tahun ia berdinas sebagai anggota DPKN -- semacam reserse untuk kejahatan politik -- di Makassar (sekarang Ujungpandang), sejak 1950. Sebelumnya, pada awal zaman Kemerdekaan, Mat anggota Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan.
Setelah beroleh akta Pendidikan Guru SLA dan B-1 Ilmu Hukum di Makassar, Mat…
