Kompilasi Data & Informasi Faktual Terkini

Menyusuri Sejarah Taksi di Jakarta

Menyusuri Sejarah Taksi di Jakarta

Tahun 1977 menjadi salah satu tahapan penting kehidupan taksi di Jakarta. Waktu itu tarifnya masih sama seperti 4 tahun sebelumnya, Rp 75 per km. Dan di argometernya pun masih Rp 200 setiap kali bendera diturunkan (buka pintu).

"Bisnis taxi sekarang bukan tambang mas lagi", Soemakto Soedarjoen, Direktur Utama PT President Taxi, berkata pada Yunus Kasim dari TEMPO. "Tidak ekonomis lagi", katanya sambil membanding sejumlah angka dulu dan sekarang.

Meskipun begitu, jumlah taxi tahun 1977 meningkat terus, melehihi 4.500 yang terdaftar resmi. Taxi liar sudah dilarang, tapi pihak petugas tampaknya tidak tega untuk membasminya sampai habis. Jika sisa taxi liar ditindak tanpa kompromi, mungkin jumlah taxi yang terdaftar resmi sudah 5000.

Pemerintah DKI sudah membentuk PT President Taxi sebagai wadah menampung taxi liar atau mobil pribadi yang di-taxi-kan. Sesudah 4 ahun berjalan, lebih 3.200 kendaraan menggabungkan diri pada PT President Taxi. Pada mulanya persyaratan dan prosedur untuk memperoleh cap keris -- bendera President Taxi agak gampang. Sekarang sulit. Persyaratan sama, tapi agak dipersulit dalam prakteknya. Mungkin ini bertujuan merencanakan kenaikan jumlah taxi resmi, supaya tingkat bisnisnya terjamin baik.

Selain President Taxi, waktu itu ada delapan perusahaan lain: Morante (500 unit), Rotax (150), Royal City (100), Blue Bird (250), Steady Safe (150), Gamya (100) dan Sri Medali (125). Kedelapan itu memiliki kendaraan sendiri. Tapi ada di antara mereka yang secara berangsur mengalihkan pemilikan pada supir masing-masing. Caranya a.l. dengan pemberitan kredit dan sewa-beli kendaraan

Sistem pembayaran Taksi mengalami perubahan besar pada 1986 setelah Pemda DKI Jakarta mengharuskan semua pengusaha taksi mengubah argometer mekanis, yang dipakai selama ini, ke argo elektronik. Pada perhitungan Pemda DKI, argometer elektronik tak bisa dikudakan karena komputer pada argometer ini sudah diprogram.

Perubahan sistem itu mengubah alat pencatat harga, yang biasanya dipasang pada dashboard itu, sering mencatat harga yang oleh penumpang sendiri dianggap ketinggian. Tak jarang timbul pertengkaran karena angka argo melonjak tak wajar.

Pada akhirnya bisnis taksi kian mengerucut ke pemain-pemain besar. Operator lain hanya mengekor di belakang.

Arsip Media

Pengangkutan Di Jakarta
No. 10/04 Edisi 11-05-1974
Pengangkutan Di Jakarta

Majalah Teks

E
ELEKTRONISASI ARGO KUDA
1986-12-06

Pemda dki jakarta mengharuskan semua pengusaha taksi mengubah argometer mekanis, yang dipakai selama ini, ke…

T
TAXI BUKAN LUX
1971-04-10

Kepala dinas lalu lintas angkutan darat (dllad) dki, partomuan harahap menyatakan hasratnya untuk melengkapi sarana…

T
TAXI-METER
1972-08-05

Banyak sopir taksi di jakarta tak mau menggunakan taksi meter. sopir sering mematikan taksi meter…

M
MENUJU SATU JENIS
1977-05-14

Jumlah taksi di jakarta meningkat terus. pt presiden taksi melakukan seleksi terhadap calon anggota baru.…

B
Bisnis Legit di Lahan Sempit
2008-08-31

Perusahaan taksi express segera meluncurkan taksi premium memakai toyota alphard. persaingan didominasi tiga pemain besar.

S
Seteru Bisnis di Lapangan Berbeda
2016-03-27

aplikasi penyedia jasa transportasi menjadi polemik. kali ini giliran uber dan grabcar yang menjadi sasaran.…

O
Operasi Tuyul Taksi Online
2018-02-18

Polisi menangkap komplotan pengemudi taksi online yang mengoperasikan order fiktif. tak hanya terjadi di jakarta.

B
Berburu Penumpang di Layar Monitor.
2018-11-18

bisnis angkutan darat ramai-ramai beralih ke sistem digital agar efisien. belum mengarah ke perubahan pola…