Mengapa Indonesia Memilih Rafale: Sejarah Panjang Pembelian Pesawat Tempur TNI
Tiga pesawat tempur Rafale pesanan TNI hari ini, 27 Januari 2026 tiba di Indonesia. Pilihan Indonesia ke pesawat buatan Prancis ini sudah berlangnsung lama. Tahun 2014 Kementerian Pertahanan dan TNI Angkatan Udara mengkaji calon pengganti pesawat tempur F-5 Tiger yang akan dikandangkan. Seperti ditulis Koran Tempo, Kepala Badan Perencanaan Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laksamana Muda Rachmad Lubis, mengatakan empat pesawat generasi 4,5 atau mendekati kemampuan pesawat siluman atau antiradar yang dilirik adalah Sukhoi Su-35 buatan Rusia, SAAB JAS Gripen produksi Swedia, Dassault Rafale dari Prancis, serta Boeing F/A-18E/F Super Hornet bikinan Amerika.
Baru pada Juli 2015 pesawat tempur buatan Prancis, Dessault Rafale, tiba di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, untuk unjuk kebolehan. Dessault Rafale adalah pesawat tempur generasi 4,5 yang memiliki desain unik. "Kami ingin ganti F-5 dengan pesawat baru generasi 4,5. Rafale termasuk generasi 4,5," kata Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto, yang saat itu menjabat Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara. "Jenisnya seperti apa, Kementerian Pertahanan yang menentukan. Kami hanya minta pesawat generasi 4,5 dan punya daya gentar tinggi."
Dalam rapat di Komisi Pertahanan, Menteri Pertahanan Prabowo menyampaikan niatnya membeli sejumlah alutsista. Misalnya, dia akan mendatangkan 36 pesawat tempur Dassault Rafale dari Prancis. Tahun 2020 Prabowo dua kali berkunjung ke negara itu, yaitu pada Januari dan Oktober 2020. Saat itu, Prabowo bertemu dengan Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly.
Februari 2022 Kementerian Pertahanan yang dipimpin Prabowo Subianto menandatangani pembelian 42 pesawat tempur Rafale buatan Prancis. Kontrak pertama adalah pembelian enam pesawat tempur Dassault Rafale dari kontrak 42 pesawat tersebut.