Lebih dari 38.500 Spesies Hewan dan Tumbuhan Terancam Punah

oleh:

Faisal Javier

Sabtu, 11 September 2021 08:49 WIB

Organisasi internasional di bidang konservasi sumber daya alam, Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) memperkirakan lebih dari 38.500 spesies makhluk hidup terancam punah sehingga masuk dalam daftar merah penelitiannya. Jumlah itu bukan tidak mungkin akan terus bertambah mengingat masih ada 28 persen spesies yang belum diteliti IUCN. Organisasi ini menargetkan penelitian terhadap 160 ribu spesies hewan dan tumbuhan.

Dari temuan IUCN, potensi kepunahan tertinggi dimiliki oleh spesies amfibi, yakni 41 persen dari jumlah spesies yang diteliti. Selanjutnya ialah hiu dan pari sebesar 37 persen, lalu spesies tumbuhan runjung sebesar 34 persen.

Berdasarkan proporsi kategori ancaman pada hiu dan pari, 31 persen akibat degradasi dan kehilangan habitat. Lalu perubahan iklim mempunyai dampak sebesar 10 persen. Ancaman kepunahan pada spesies ini diperparah oleh penangkapan secara berlebihan. Menurut laman IUCN Shark Specialist Group (SSG), IUCN telah meneliti risiko kepunahan pada 128.500 spesies hiu. 

Pada dua tahun lalu, Platform Kebijakan Sains Antarpemerintah tentang Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem (Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services/IPBES) bahkan memperkirakan jumlah hewan dan tumbuhan yang terancam punah mencapai 1 juta spesies.

Ringkasan laporan terbaru yang disetujui pada sesi ke-7 Pleno IPBES —berlangsung pada 29 April hingga 4 Mei 2019 di Paris—berdasarkan peninjauan sistematis sekitar 15.000 sumber ilmiah dan pemerintah.

Kerusakan alam yang belum pernah terjadi sebelumnya dan semakin cepat dalam kurun waktu 50 tahun terakhir diperparah oleh pemanfaatan lahan dan laut yang masif, eksploitasi makhluk hidup, perubahan iklim, polusi dan spesies invasif. Perkembangan ini juga didorong oleh perilaku masyarakat, mulai dari konsumsi hingga tata kelola. Sumber daya makanan dan air minum pun dikhawatirkan habis lantaran jumlah spesies dan kualitas ekosistem berkurang.