Rasio Pemeriksaan Massal Indonesia Masih Jauh Tertinggal

oleh:

Firdhy Esterina Christy

Rabu, 16 September 2020 17:49 WIB
Loading...

Loading...

Ahli epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman, menyatakan pemerintah perlu mengatur harga tes usap dengan metode reverse transcription polymerase chain reaction (RT PCR). Menurut dia, pengaturan tarif tes itu perlu dilakukan agar harganya terjangkau dan mampu meningkatkan rasio deteksi Covid-19. "Pemerintah harus menjadikan pengaturan ini prioritas karena pengujian di Indonesia masih lemah dan sudah sangat terlambat," ujar Dicky kepada Tempo, kemarin.⁠

Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia masih sangat tertinggal. Indonesia baru melakukan pemeriksaan mencapai 9.668 dengan perbandingan rasio total mencapai 96 per 14 September 2020. Sementara negara-negara lain sudah mencapai 300.000 pemeriksaan.

Dia menuturkan, kapasitas tes di Indonesia masih di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang sebesar satu per seribu populasi per pekan. Berdasarkan standar tersebut, dengan populasi sebanyak 269,6 juta jiwa, pemerintah harus memeriksa 38,5 ribu penduduk per hari. Kenyataannya, kemampuan pemeriksaan rata-rata per hari hanya berkisar 19 ribu orang. Dalam laporannya, WHO pun menyoroti uji swab di Indonesia yang banyak digunakan untuk memantau status pasien positif, bukan untuk menemukan kasus baru.