Kebocoran Data, Bukti Keamanan Siber Indonesia yang Lemah

Rabu, 7 September 2022 16:02 WIB

Masalah kebocoran data bak penyakit kronik yang tak kunjung sembuh di Indonesia. Ratusan data diperjualbelikan dan bahkan dibagikan secara cuma-cuma di sebuah forum diskusi hingga pasar gelap. Dari data yang berhasil Tempo kumpulkan dari situs Breached, beberapa pengguna anonim membagikan data pribadi yang dicuri dari jasa fotokopi, perusahaan hingga berbagai instansi pendidikan, seperti tampak pada visualisasi di bawah.

 

Tempo juga mendapati beberapa pengguna forum tersebut membagikan data milik instansi pemerintah, antara lain sejumlah kementerian, Kepolisian, Badan Intelijen Negara (BIN) hingga Bea Cukai. Data bocor milik instansi pemerintah tersebut umumnya berisi informasi pribadi seperti foto, nama lengkap, nomor induk kependudukan (NIK), jabatan, hingga akta kelahiran dan ijazah. 

Selain data milik pemerintah, Tempo menemukan pula berbagai data pribadi yang bocor dari perusahaan marketplace, telekomunikasi, pertambangan hingga pengantaran kargo. Selain itu, data pribadi yang bocor di situs tersebut berasal dari beberapa institusi pendidikan menengah hingga tinggi. 

 

Kasus kebocoran data di atas menjadi salah satu pertanda keamanan siber Indonesia yang lemah. Menurut data Cyber Security Index dari NCSI (National Cyber Security Index) Indonesia berada pada posisi 83 dari 160 negara perihal keamanan siber. Indonesia mendapatkan skor 38,96 pada indeks keamanan siber dan skor 46,84 pada tingkat pengembangan digital.

 

Dalam lingkup kawasan Asia Tenggara, Indonesia berada di peringkat 6 dari 10 dalam indeks keamanan siber. Negara tetangga Malaysia berada di posisi pertama dengan skor 79,22. Negara tetangga lainnya, Singapura, berada di posisi kedua perihal keamanan siber dengan skor 71,43. 

PUJA PRATAMA RIDWAN