Daur Ulang Masih Belum Cukup Mengatasi Persoalan Limbah Plastik

Kamis, 14 Juli 2022 18:27 WIB

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memprediksi bahwa limbah plastik akan meningkat tiga kali lipat, dari 353 juta ton di 2019 menjadi 1.014 juta ton di 2060. Dalam laporannya berjudul Global Plastics Outlook, OECD menyebut bahwa dua pertiga dari limbah tersebut diperkirakan berasal dari tekstil, kemasan, serta barang konsumsi. Limbah dari konstruksi dan transportasi diperkirakan juga menyumbang signifikan.

Di 2019, penelitian OECD menyebut bahwa daur ulang limbah plastik hanya 9 persen dari total limbah yang dihasilkan. Empat dekade mendatang, OECD memproyeksikan bahwa tingkat daur ulang akan meningkat jadi 17 persen. 

Namun peningkatan itu masih belum cukup. Sebagian besar limbah plastik pada 2060 diperkirakan masih berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), yakni 50 persen dari total limbah. Kemudian pembakaran menurun jadi 18 persen, dan limbah salah kelola juga menurun menjadi 15 persen seperti tampak pada diagram di atas.

Faktor utama dari peningkatan limbah plastik adalah kenaikan jumlah penduduk dunia. Faktor lain adalah pertumbuhan ekonomi. Dalam laporan itu disebutkan bahwa konsumsi plastik di negara-negara OECD akan meningkat dua kali lipat. Sedangkan di kawasan Sub-Sahara meningkat enam kali lipat, dan Asia meningkat tiga kali lipat. Namun negara-negara OECD diperkirakan masih menjadi konsumen plastik terbesar secara rata-rata per kapita atau setiap satu penduduk.