SD Jadi Penyumbang Terbanyak Klaster Covid-19 di Sekolah

oleh:

Faisal Javier

Jumat, 24 September 2021 20:28 WIB

Berdasarkan data survei Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) per 23 September 2021 pukul 08.00 WIB, terdapat total 1.270 klaster Covid-19 baru dari ribuan sekolah yang mengadakan pembelajaran tatap muka (PTM). Sekolah dasar (SD) jadi jenjang pendidikan penyumbang klaster terbanyak, yakni 583 sekolah atau 46 persen.

Selain itu, SD juga menyumbangkan jumlah siswa dan pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) positif Covid-19 terbanyak di antara jenjang pendidikan yang lain, yakni 6.928 siswa dan 3166 orang PTK.

 

Sementara pendidikan anak usia dini (PAUD) menempati peringkat kedua penyumbang klaster sekolah terbanyak dengan jumlah 251 sekolah atau 20 persen. Namun jumlah siswa dan PTK positif Covid-19 terbanyak kedua ditempati oleh sekolah menengah pertama (SMP), yakni  sebanyak 2.201 siswa dan 1.428 PTK.

Terdapat perbedaan jumlah antara total klaster yang diumumkan Kemendikbudristek dengan akumulasi data tiap jenjang pendidikan. Kemendikbudistek mengumumkan jumlah klaster sekolah sebanyak 1302, sedangkan akumulasi data klaster per jenjang pendidikan hanya mencapai 1.270. Ketika Tempo membuka situs sekolah.data.kemdikbud.go.id/kesiapanbelajar pada 24 September 2021 pukul 15.00 WIB, tertulis bahwa situs sedang mengalami proses updating data.

Perbedaan jumlah juga terdapat pada angka kasus positif Covid-19 pada siswa dan PTK. Kemendikbudristek menyebut PTK yang positif Covid-19 berjumlah 7.208 orang, Sedangkan siswa sebanyak 15.456 orang. Padahal, akumulasi data kasus positif Covid-19 dari seluruh jenjang adalah kasus Covid-19 PTK berjumlah 7.086 dan siswa sebanyak 14.771.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah Kemendikbudristek Jumeri mengungkap bahwa data yang terpampang pada situs Kemendikbud merupakan data sejak awal pandemi.

“Itu rekapitulasi sejak Maret 2020,” kata Jumeri kepada Tempo, Kamis, 23 Spetember 2021.

Jumeri menyebut, hingga 19 September 2021 baru ada 42 persen sekolah yang berada di level 3, 2, dan 1 selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang menyelenggarakan PTM terbatas. 

Jumeri mengatakan, protokol terkait dengan risiko klaster sekolah sudah jelas dan ketat diatur dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri. Dalam aturan itu, pemerintah daerah harus menutup sekolah, menghentikan PTM terbatas, dan melakukan testing, tracing, dan treatment (3T) jika ada temuan kasus positif Covid-19.