Perbandingan Kasus Covid-19 Inggris Raya dan Indonesia

oleh:

Faisal Javier

Kamis, 8 Juli 2021 18:32 WIB

Hampir sebulan Euro 2020 digelar, Inggris Raya telah menyaksikan kenaikan kasus Covid-19 harian. Pada 7 Juli 2021, tercatat ada 32.548 kasus Covid-19 baru. Terakhir kali Inggris Raya—negara yang mencakup Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia—mencatatkan angka kasus di atas 30.000 ialah pada Januari 2021, ketika penyebaran Covid-19 sedang mengganas.

Perhelatan Euro 2020 di Inggris Raya memang baru digelar pada 13 Juni 2021, ketika Timnas Inggris menjamu Kroasia di Stadion Wembley, London. Namun Inggris Raya saat itu telah menunjukkan tanda kenaikan kasus Covid-19. Rata-rata kasus Covid-19 mingguan hari itu mencapai 7.145 kasus, naik 49 persen dari minggu sebelumnya. Apabila dibandingkan dengan rata-rata kasus mingguan pada 7 Juli, maka kini kenaikan rata-rata kasus mingguan mencapai 286 persen.

Dilansir dari Reuters, terdapat 1.991 orang positif Covid-19 di Skotlandia usai menyaksikan pertandingan Euro 2020 Inggris vs Skotlandia pada 18 Juni 2021. Berdasarkan data Public Health Scotland, sebanyak 1.294 di antaranya pergi ke London, dan 397 orang menyaksikan pertandingan secara langsung di Wembley.

Di kota Tamworth, Inggris, sebuah bar ditutup setelah ditengarai menjadi penyebab lonjakan kasus Covid-19. Dilansir dari BBC, pada 2 Juli 2021 kota itu menjadi tempat dengan infeksi Covid-19 tertinggi kesembilan di Inggris, dengan rasio 446 kasus baru per 100.000 orang. Kelompok usia 18-34 tahun menjadi penyumbang terbesar lonjakan kasus. Budaya pergi ke bar untuk menonton sepak bola sambil minum-minum menjadi kebiasaan orang Inggris setiap kali ada pertandingan sepak bola.

Di sisi lain, Stadion Wembley akan menggelar final Euro 2020 yang mempertemukan Timnas Italia dengan Inggris. Dilansir dari The Independent, kapasitas penonton dibatasi hanya 60.000 orang, tetapi seorang sumber menyebut 90.000 kursi stadion berpotensi terisi penuh lantaran Timnas Inggris berhasil lolos ke final.

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson telah mengumumkan Inggris akan mengakhiri pembatasan sosial pada 19 Juli 2021. Namun, rencana itu mendapat kritik lantaran varian Delta saat ini telah menimbulkan lonjakan kasus signifikan di Inggris.

Pada periode yang sama, Indonesia menunjukkan awal mula kenaikan kasus Covid-19. Saat itu Indonesia telah memasuki pekan keempat setelah Lebaran. Di Indonesia, Lebaran menjadi salah satu momen ketika mobilitas masyarakat meningkat. Pada 25 Mei 2021, Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito menyebut saat itu sudah terjadi tren kenaikan kasus Covid-19, meski saat itu baru menginjak minggu kedua pasca Lebaran.

Berdasarkan data KawalCovid-19, rata-rata kasus mingguan pada 11 Mei 2021 mencapai 5.367 kasus. Namun sebulan kemudian rata-rata kasus mingguan menjadi 7.202 kasus, atau naik 34 persen.

Sama seperti Inggris Raya, Indonesia kini telah mencatatkan kasus harian di atas 30.000. Ini terjadi secara berturut-turut pada 6 dan 7 Juli 2021. Varian Delta juga ditengarai sebagai penyebab utama dari lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia.

Namun yang membedakan ialah kasus harian di atas 30.000 merupakan hal yang pertama kali terjadi bagi Indonesia. Pada puncak gelombang pertama pandemi di awal tahun 2021, kasus harian tertinggi berada pada angka 14.518 kasus pada 30 Januari 2021. Dengan kata lain, jumlah kasus harian Indonesia saat ini dua kali lipat jumlah kasus di bulan Januari.

Tetapi proyek penelitian Our World in Data mengingatkan bahwa jumlah kasus yang resmi dilaporkan Indonesia lebih rendah dari jumlah kasus sebenarnya. Ini tidak terlepas dari jumlah tes Covid-19 yang terbatas.

Jumlah tes Covid-19 Indonesia memang kalah jauh dibandingkan dengan Inggris Raya. Inggris Raya bahkan mampu mengetes lebih dari 1 juta orang, sedangkan jumlah tes tertinggi Indonesia sejumlah 141.957.  Selama periode 11 Juni hingga 7 Juli, rata-rata tes Covid-19 harian Inggris Raya mencapai 960.193, sedangkan rata-rata tes harian Indonesia sebesar 83.833. Dengan kata lain, rata-rata tes harian Inggris dalam periode tersebut 11,5 kali lebih besar dari rata-rata tes harian Indonesia.

Jumlah tes Covid-19 yang rendah tergambar dalam cakupan tes per 1 juta penduduk kedua negara itu. Inggris Raya hingga 6 Juli 2021 telah melakukan 215,9 juta tes, sedangkan Indonesia pada hari yang sama baru mencapai 13,95 juta tes. Dengan jumlah penduduk 67,08 juta jiwa, Inggris telah melakukan tes Covid-19 3,22 juta per 1 juta penduduk, sedangkan Indonesia dengan jumlah penduduk 271,35 juta baru melakukan tes 51.424 per 1 juta penduduk.

Tes Covid-19 Indonesia yang rendah turut berpengaruh pada positivity rate Indonesia. Sejak sepekan terakhir, positivity rate Indonesia berada di kisaran 20 sampai 30 persen. Dengan kata lain, dari 100 orang yang dites di Indonesia terdapat 20-30 orang yang positif Covid-19.