Kasus Covid-19 Indonesia Lebih Rendah dari India, Tapi Positivity Rate Melebihi Standar WHO

oleh:

Faisal Javier

Rabu, 7 Juli 2021 19:38 WIB

Dalam kurun waktu sebulan terakhir, kasus Covid-19 Indonesia menunjukkan lonjakan signifikan. Jumlah kasus Covid-19 mingguan pada akhir bulan Juni 2021 mencapai 125.396 kasus, memecahkan rekor jumlah kasus mingguan terbanyak pada Januari 2021 yang mencapai 89.902 kasus. Satgas Penanganan Covid-19 menyebut Indonesia kini memasuki gelombang kedua pandemi Covid-19.

Hingga 7 Juli 2021, Indonesia telah mencatat total kasus Covid-19 sebanyak 2,38 juta kasus dan kematian sebanyak 62.908 orang.

Tidak hanya itu, kapasitas rumah sakit di seluruh provinsi di Jawa telah hampir penuh, beberapa rumah sakit pun menutup layanan karena jumlah pasien yang terus membludak. Di sisi lain, krisis oksigen pun membayangi, menjadi ancaman bagi keselamatan para pasien Covid-19.

Kondisi ini mengingatkan kondisi serupa yang dialami India pada bulan Maret hingga Mei. Bahkan pada awal bulan Mei, India sempat mencatatkan kasus Covid-19 harian hingga 401.993 kasus baru. 

Membandingkan angka total kasus Covid-19 dan kematian India dengan Indonesia tentu bagai langit dan bumi. Dengan jumlah penduduk 1,39 miliar jiwa atau sekitar 5 kali lipat dari Indonesia, India telah mencatatkan total kasus Covid-19 sebanyak 30,66 juta menurut proyek penelitian Our World in Data, tertinggi kedua di dunia setelah Amerika Serikat. 

Untuk mengukur indikator keparahan penyebaran Covid-19 secara proporsional, maka digunakan indikator rasio positif atau positivity rate, yang merupakan rasio persentase yang didapat dari jumlah kasus positif Covid-19 dibagi jumlah tes. Indikator jumlah tes setiap negara berbeda-beda, ada yang menggunakan standar jumlah orang dites, ada pula yang menggunakan jumlah tes karena satu orang bisa menjalani tes Covid-19 lebih dari sekali.

WHO menetapkan batas ambang  positivity rate maksimal 5 persen. Angka positivity rate yang tinggi menunjukkan Covid-19 telah menyebar luas dan jumlah tes yang tidak mencukupi. Jumlah tes yang kurang menandakan bahwa jumlah kasus Covid-19 yang sebenarnya lebih tinggi dari yang diumumkan secara resmi.

Sejak pandemi bermula, Indonesia hampir tidak pernah mencatat positivity rate di bawah standar WHO. Hal itu juga diakui Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa pada September 2020 lalu. Saat itu positivity rate Indonesia tergolong dalam kategori tinggi, berada pada kisaran 10 sampai 20 persen.

Berdasarkan catatan KawalCovid-19, angka positivity rate tertinggi Indonesia sejauh ini terjadi pada 17 Februari 2021 sebesar 42,6 persen atau terdapat 43 orang positif Covid-19 dari 100 orang yang dites. Saat itu terdapat kasus Covid-19 baru sebanyak 9.687 kasus dari 22.750 orang yang diperiksa.

Sedangkan India menunjukkan grafik angka positivity rate naik turun. Negara itu sempat mencatatkan positivity rate terendah sebesar 1,6 persen pada Februari 2021, namun beberapa kali sebelumnya sempat melewati batas ambang WHO. Ketika negara itu dilanda gelombang kedua pandemi pada April sampai Mei 2021, negara itu sempat mencatatkan positivity rate pada kisaran 10-20 persen.

Menurut rekapitulasi Our World in Data, positivity rate tertinggi yang India capai 22,7 persen pada 8 Mei 2021. Saat itu ada 403.450 kasus baru dari 1,81 juta tes. Angka positivity rate India hari itu tentu hanya sekitar separuh positivity rate tertinggi Indonesia pada 17 Februari 2021.

India sendiri kini telah menunjukkan penurunan kasus Covid-19. Berdasarkan pengumuman Kementerian Penyiaran dan Informasi India di Twitter, jumlah kasus Covid-19 harian India pada 6 Juli 2021 mencapai 34.703 kasus baru dengan angka positivity rate 2,11 persen. India masih menjadi negara dengan jumlah tes Covid-19 terbanyak di dunia, mencapai 1,65 juta tes pada hari yang sama.

Meningkatkan jumlah tes menjadi salah satu kunci penting dalam menurunkan angka positivity rate. Apalagi dalam seminggu terakhir positivity rate Indonesia berada di kisaran 20-30 persen.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pun berjanji meningkatkan jumlah tes Covid-19 harian Indonesia selama masa PPKM Darurat.“Kita akan meningkatkan testing (dan) tracing kita sampai 3 sampai 4 kali lipat dari sekarang menjadi sekitar 500 ribu tes per hari,” ujar Budi Gunadi pada konferensi pers daring, Kamis, 1 Juli 2021.

Sebanyak 122 daerah yang masuk dalam zona PPKM Darurat pun mendapat tugas untuk mengejar ketertinggalan jumlah tes. Setiap hari daerah-daerah tersebut harus memenuhi target jumlah tes Covid-19 yang ditetapkan. “Bisa lewat rapid antigen kalau swab PCR-nya lama, atau lewat PCR tapi targetnya kita hasil testing harus bisa keluar dalam waktu 24 jam. Jadi PCR tak keluar dalam 24 jam kita pakai rapid antigen,” kata Budi Gunadi.