Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Berapa Penduduk Jakarta Tiap Dekade?

Senin, 24 Juni 2024 10:52 WIB

Warga menyaksikan pertunjukan video mapping dalam acara Jakarta Light Festival, Kota Tua, Jakarta, Minggu, 23 Juni 2024. Pertunjukan tersebut merupakan rangkaian dari Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Jakarta ke-497, berbagai macam pertunjukan seperti video mapping, instalasi lighting, hingga penampilan musik yang dapat dinikmati oleh warga secara gratis. TEMPO/ Febri Angga Palguna

Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta jatuh pada Sabtu, 22 Juni 2024. Tahun ini Jakarta menginjak usia 497 tahun. Meski statusnya sebagai ibu kota negara akan digantikan oleh Ibu Kota Nusantara, Jakarta masih menjadi pusat perekonomian dan bisnis Indonesia. Tak heran jika Jakarta masih menjadi gula-gula yang menarik pendatang dari daerah-daerah lain di Indonesia.

Berdasarkan hasil sensus yang terakhir kali dilakukan 2020 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk Jakarta mencapai 10,56 juta jiwa. Jumlah tersebut meningkat sebesar 954 ribu jiwa dari sensus terakhir 10 tahun sebelumnya, atau 88 ribu jiwa per tahun. 

Dua abad lalu, penduduk Jakarta—saat itu bernama Batavia—berjumlah 300 ribu jiwa lebih, berdasarkan hasil sensus pemerintah kolonial Inggris pada 1815 yang tercatat dalam buku The History of Java, yang ditulis Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu. Kemudian pada sensus yang dilakukan Pemerintah Hindia Belanda pada 1930, yang dokumennya Tempo dapatkan pada arsip digital Universitas Leiden, angka penduduk Batavia mencapai 435.184 jiwa. 

 

Daftar Pembagian Daerah Batavia, Meester-Cornelis, dan Buitenzorg di era Hindia Belanda (Dispusip DKI Jakarta)

Untuk diketahui, wilayah Batavia di masa penjajahan Inggris dan Belanda memiliki perbedaan dengan wilayah Jakarta saat ini. Mengutip situs Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta, wilayah Kabupaten Batavia pada tahun 1933 saat itu turut meliputi wilayah Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang hari ini. Namun beberapa wilayah Jakarta hari ini saat itu tercatat berada di bawah Kabupaten Meester-Cornelis, yang bertetangga dengan Kabupaten Batavia. 

Meskipun Jakarta terus mencatatkan pertambahan penduduk setiap tahun, namun laju pertumbuhan penduduk per tahun mengalami penurunan. Laju pertumbuhan penduduk ibu kota per tahun pada periode 2010-2020 mencapai 0,92 persen, menurun sebesar 0,49 persen dari periode sebelumnya. Kepulauan Seribu menjadi wilayah laju pertumbuhan penduduk per tahun tertinggi di DKI Jakarta sebesar 2,69 persen, sedangkan wilayah laju pertumbuhan penduduk per tahun terkecil ialah Jakarta Barat dengan 0,63 persen.

Menurut BPS DKI Jakarta, penurunan laju pertumbuhan penduduk akibat migrasi keluar lebih besar dari migrasi masuk, berakibat angka migrasi neto menjadi minus. Berdasarkan perhitungan BPS, migrasi neto DKI Jakarta pada periode 2010-2015 sejumlah -23, atau sebanyak 23 dari 1000 penduduk keluar dari DKI Jakarta.